Lirik “Ride” oleh 21 Pilots

I just wanna stay in the sun where I find
I know it’s hard sometimes
Pieces of peace in the sun’s peace of mind
I know it’s hard sometimes

Yeah, I think about the end just way too much
But it’s fun to fantasize
On my enemies who wouldn’t wish who I was
But it’s fun to fantasize

Oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh
I’m fallin’ so I’m taking my time on my ride
Oh, oh, oh, oh
I’m fallin’ so I’m taking my time on my ride
Takin’ my time on my ride

“I’d die for you” that’s easy to say
We have a list of people that we would take
A bullet for them, a bullet for you
A bullet for everybody in this room
But I don’t seem to see many bullets coming through
See many bullets coming through
Metaphorically, I’m the man
But literally, I don’t know what I’d do
“I’d live for you” and that’s hard to do
Even harder to say, when you know it’s not true
Even harder to write, when you know that’s a lie
There were people back home who tried talking to you
But then you ignore them still
All these questions they’re for real, like
“Who would you live for?”
“Who would you die for?”
And “Would you ever kill?”

Oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh
I’m fallin’ so I’m taking my time on my ride
Oh, oh, oh, oh
I’m fallin’ so I’m taking my time on my ride
Takin’ my time on my ride

I’ve been thinking too much
I’ve been thinking too much
I’ve been thinking too much
I’ve been thinking too much (Help me)

I’ve been thinking too much (I’ve been thinking too much)
I’ve been thinking too much (Help me)
I’ve been thinking too much (I’ve been thinking too much)
I’ve been thinking too much

Oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh
I’m fallin’ so I’m taking my time on my ride
Oh, oh, oh, oh
I’m fallin’ so I’m taking my time
Takin’ my time on my ride
Whoa, oh, oh

Oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh
I’m fallin’ so I’m taking my time on my ride
Oh, oh, oh, oh
I’m fallin’ so I’m takin’ my time on my-

I’ve been thinking too much (Help me)
I’ve been thinking too much (Help me)
I’ve been thinking too much (I’ve been thinking too much)
I’ve been thinking too much (Help me)
I’ve been thinking too much (I’ve been thinking too much)
I’ve been thinking too much (Help me)


Duo cowok keren tampil memukau. Lihat saja disini.

Lagu “Mauliate Ma” Cipt. Pengalaman Simamora: Sebuah Contoh Konkret Katekese Aktual

Katekese yang Aktual dan Inovatif

Pewartaan (kerygma) merupakan salah satu tiang utama Gereja dalam karya kerasulannya sebagai pengajar iman dan moral.

(Tiang lainnya yakni diakonia/pelayanan, koinonia/persekutuan, liturgia/perayaan  dan marturia/kesaksian. Lebih lengkapnya silahkan teman-teman Katolik buka kembali diktat ajaran gereja, atau lebih mudah tinggal cari dengan mesin pencarian Google).

Sejauh ini, salah satu bentuk pewartaan yang paling umum adalah pertemuan katekese umat, baik di lingkungan maupun kelompok kategorial. Tapi di tengah situasi dan keterlibatan umat Katolik dalam pemutusan rantai penyebaran COVID-19 di Indonesia maupun seluruh dunia, tentu pertemuan langsung di lingkungan maupun kategorial sangat sulit. Kita harus mematuhi protokeler kesehatan yang mengharuskan kita menjaga jarak dan menjauhi kerumunan.

Jika demikian, bagaimana caranya mengemas katekese supaya tetap aktual dan tetap sampai serta diterima oleh umat?

Ingat ya, jadi ada 2 kata kunci, yaitu: SAMPAI dan DITERIMA


Mengapa harus Ikut Berkatekese?

Oh iya. Tapi itu kan tugas para pelayan Gereja, entah pastor, suster, frater, bruder atau para penguruslah itu?

Tidak. Tugas pewartaan Injil bukanlah melulu tugas hierarki atau lembaga hidup bakti, melainkan tugas semua umat, berkat Sakramen Baptis dan Krisma. Jadi, jelas ya: tugas semua umat. Artinya, kalau kamu umat Katolik, berkatekese adalah tugasmu juga.

Duh, gitu ya? Iya. Begitu.

Umat terpanggil untuk menjadi katekis volunteer, yaitu kaum awam yang melibatkan diri secara aktif dan sukarela dalam karya-karya pewartaan Gereja, mewartakan Injil kepada semua orang.

Tapi kan tidak semua orang dibekali dengan pengetahuan tentang teologi pastoral atau bahan-bahan katekismus? Tidak perlu untuk menjadi ahli. Toh sejak sekolah minggu hingga besar sekarang, kurang lebih kita tahu ajaran Katolik itu seperti apa.

Tapi itu pun, jika ada keraguan tentang isi dari katekese yang akan mulai kamu rancang, selalu ada orang dan sumber terpercaya yang bisa ditanya. Ada katekis di paroki tempat kamu tinggal, tanyalah. Jika kamu kenal ada pastor atau awam yang cakap secara akademis soal teologi juga, tanyalah mereka.

Jika ternyata mereka susah menjawab atau selalu sibuk dengan alasan ini dan itu, tidak masalah. Saat ini hampir semua sumber ajaran resmi tersedia di internet. Kamu tinggal cek saja situs-situs resmi Gereja Katolik, entah yang global seperti Vatican Va, yang nasional seperti KWI, yang lokal seperti Paroki Jalan Bali Siantar. Jika tidak bertemu langsung dengan bahan yang ingin kamu cari, biasanya ada tautan untuk bertanya atau menunjukkan kontak yang bisa dihubungi dan ditanyai.

Oke? Jadi tidak sesusah dulu lagi mestinya, tidak sesulit ketika kita belum mengenal internet.


Caranya Berkatekese yang Aktual itu Bagaimana?

Sebelum mulai, ada baiknya sadari dulu beberapa kenyataan ini.

Pertama, sekarang umat ada dimana? Di rumah atau tempat kerja masing-masing. Bagaimana menjangkau mereka kalau hadir di gereja atau lingkungan pun mereka tak bisa hadir karena jumlah peserta dibatasi? Sejujurnya mereka tidak begitu jauh kok. Umum sekali kita tahu bahwa semuanya sudah menggunakan perangkat yang bisa terhubung dengan jaringan internet, entah smartphone atau komputer. Umumnya memiliki Whatsapp, Telegram, Facebook, Instagram dan Tikotok. Atau salah satu dari itu.

Jadi, caranya untuk terhubung dengan mereka adalah dengan membuat konten katekese dan mengabarkan kepada mereka.

Keduabagaimana mengantarkan konten katekese itu supaya sampai ke mereka? Ibarat permainan sepak bola, jemput bola. Tidak menunggu bola menghampirimu untuk melanjutkan permainan. Kabarkan ke mereka bahwa kamu punya sesuatu untuk disampaikan dan barangnya sudah jadi. Entah berupa tulisan di blog sederhana seperti yang sedang kamu baca ini. Entah berupa podcast di Instagram atau Google Podcast, atau video di Youtube dan Facebook.

Harus di semua platform itukah kita mengabari mereka? Tak perlu. Satu atau dua saja yang kamu sendiri gunakan.

Ketiga, bagaimana tipsnya supaya katekese itu diterima oleh mereka? Ini menarik. Ada jutaan tulisan dan video tiap hari. Bagaimana supaya konten yang kita buat menarik mereka sehingga mereka terdorong untuk mendengar lebih banyak dari kita, sementara saat ini setiap orang bisa saja mengepos dan mempublikasikan apapun? Buatlah katekese yang berangkat dari situasi aktual, relevan dan kena dengan pendengar/pembaca/penonton sesuai platform yang kamu pilih. Tapi tidak hanya bahannya yang aktual, melainkan cara penyampaiannya juga.

Tidak akan langsung banyak orang yang melirik kontenmu. Hal itu terjadi pada semua bidang, bukan? Selalu sulit pada tahap memulai. Tentu saja harus realistis. Sediakanlah waktu yang cukup tanpa harus mengganggu kegiatanmu yang utama. Jika kamu siswa sekolah atau mahasiswa yang sedang kuliah, jangan sampai mengganggu waktu belajarmu. Jika kamu sudah bekerja dan berkeluarga, jangan sampai mengganggu pekerjaan utama dan waktu dengan keluarga.

Tapi jika ternyata tugas pokokmu berkaitan dengan katekese entah sebagai umat maupun sebagai klerus dan anggota lembaga hidup bakti, maka tentu kamu harus bergerak lebih cepat lagi. Belajar dan belajar lagi.


Apakah Konten itu harus Bagus?

Menang di era digital menjadi suatu keharus­an bagi para pelaku bisnis digital saat ini. Kemunculan bisnis berbasis digital kian marak. Profit ialah tujuan utama setiap usaha, sehingga setiap bisnis harus memikirkan sustainability (keberlangsungan) usaha. Tetapi, yang sedang kita bahas saat ini tidak pertama-tama beriorentasi bisnis, bukan?

Karena jika itu orientasi dan motivasi awal, memang akan sangat mudah kecewa di tengah proses bahkan di awal perjalanan. “Wah, ternyata sangat susah. Harus beli ini-itu untuk perlengkapan dan peralatan multimedia-nya. Harus sewa digital marketer yang handal supaya kanal atau situsku cepat naik dan memperoleh trafik yang besar, dan lain sebagainya”.

Betul. Jika memang kamu meletakkan orientasi profit sebagai prioritas, sangat wajar kamu akan kecewa lalu tidak mau lagi melakukannya. Lalu kembalilah ke situasi awal, kamu berdalih: Biarlah itu tugas para pelayan Gereja, entah pastor, suster, frater, bruder atau para pengurus.

Tentu kita tidak ingin pesimis seperti itu, bukan?

Karena itu, mulailah dari hal sederhana yang bisa kamu lakukan. Mulai dari sesuatu yang aktual dan relevan denganmu. Mengutip ungkapan dari tokoh besar Mahatma Gandhi: “Kenyataan yang terbuka untukku, pasti juga terbuka untuk orang lain” 

Saya beri contoh sederhana berupa konten dari Youtube.

Jika kamu senang bernyanyi, kamu boleh ikut bernyanyi. Misalnya seperti dicontohkan oleh para bapak dan ibu yang tergabung di Paduan Suara Cantate Domine Paroki Jl. Sibolga ini.

Jika kamu senang menyanyi dan membuat tutorial, kamu boleh meniru yang dilakukan teman Saya, Sastro Sihotang dengan konten tutorial bagaimana menyanyikan sebuah lagu untuk paduan suara ini.

Intinya, ada banyak sekali hal yang bisa kita lakukan, sesuai dengan apa yang kamu bisa dan biasa lakukan, bahkan tanpa mengandalkan pihak lain. Hanya kamu sendiri. Tanpa menunggu besok dan besok, sebab besok tidak ada habisnya.

  • Pergulatanmu memadukan identitas Katolik dengan etnisitas dari mana kamu lahir dan tumbuh, lewat peristiwa sehari-hari
  • Bincang-bincang iman dan membahas persoal aktual dari perspektifmu sebagai seorang umat Katolik
  • Review terhadap fasilitas gereja di tempatmu
  • Permenungan singkatmu tentang ajaran sosial Gereja yang sangat luas dan padat itu
  • (dan sederet ide lainnya yang tak mungkin bisa kusebut satu persatu di tulisan sesingkat ini)

 


BONUS: Sebuah Contoh Konkret Katekese Aktual

Ada aspek lain yang bisa kita perdalam untuk memastikan konten katekese itu sampai dan diterima pemirsa, yaitu bahan dan penyampaian yang aktual.

Dalam sebuah lagu pop Batak berjudul “Mauliate Ma” (Terima Kasih) yang dinyanyikan Shety Simamora ini, tersisip contoh katekese yang kreatif.

Katekese kreatif? Maksudnya bagaimana?

Artinya, si penulis lagu yakni Pengalaman Simamora (ketika itu masih menggunakan nama biarawannya: Frater Krispinus Simamora, OFM Cap) berupaya mengkristalkan nilai-nilai Katolik dalam muatan seni budaya lokal (lagu pop dalam bahasa Batak). Tak perlu banyak. Cukup dengan cuplikan beberapa detik (lihat di menit 4:08 – 4:13) berupa tayangan dimana sebuah keluarga memulai acara makan bersama di rumah dengan membuat tanda salib. Sesederhana itu.

Bukankah secara singkat seluruh kesaksian iman itu bisa terlihat secara visual dalam tanda salib? Bukankah kalau kita berani membuat tanda salib ketika makan di tempat makan, itulah kesaksian yang hidup?

Itulah yang ditampilkan lagi dalam video lagu ini. Digabung dengan syairnya, orang akan menemukan korelasi antara sikap beriman dan berbudaya. Oh, ternyata orang Katolik itu tetap membuat tanda salib ketika makan bersama. Tentu saja ini akan menggugah umat Katolik lainnya yang tidak lagi membuat tanda salib ketika makan bersama di tengah keluarga. Atau, jangan-jangan, sekedar makan bersama pun tak pernah lagi?

Jika pemirsa sudah sampai pada pertanyaan reflektif begini, kupikir kita setuju bahwa konten katekese yang dibuat itu sudah sampai dan diterima pemirsa. Tujuan katekese sudah tercapai. Saatnya membuat yang lain lagi.

Berhubung lirik dan lagunya sederhana serta melodinya pun mudah diikuti, mungkin kamu pun ingin menyanyikannya. Ini lirik lengkapnya:

Ho do da amang
Ho do da inang
Patureture au, mamparrohahon au di ngolungkon

Balga ni basam
Na sai huhilala
Mambaen sonang au
Mambaen mekkel au
Dohot donganhi

Dang tarbalos au
Burju ni basam
Ai holan tangiang do
na tarpatupa au borumon

Mauliate ma amang di haburjuon mi
Mauliate ma inang
Di akka podami na sai huhilala

Sai anggiat ma nian
sude na denggan i nang dohot podami
anggiat gabe sulu di parngoluonhi
Ho do da amang
Ho do da inang
Patureture au, mamparrohahon au di ngolungkon

(Interlude)

Balga ni basam
Na sai huhilala
Mambaen sonang au
Mambaen mekkel au
Dohot donganhi

Dang tarbalos au
Burju ni basam
Ai holan tangiang do
na tarpatupa au borumon

Mauliate ma amang di haburjuon mi
Mauliate ma inang
Di akka podami na sai huhilala

Sai anggiat ma nian
sude na denggan i nang dohot podami
anggiat gabe sulu di parngoluonhi


Epilog

Intinya, bikin saja dulu kontennya. Hahaha.

Lirik Lagu “Parsobanan” (“Loving Her Was Easier” by Jose Feliciano)

Ai diingot ho dope itorap dakdanak uju i
rap marmeam meam di hauma manag di balian i
ho marlojong lojong di batangi laos hu adu sian pudi
laos tinggang do ho ditiki i sap gambo bohimi

Ai diingot hodope ito nadiparsobanan i
ima naso tarlupahon au tikki roma rimbus i
laos hubukka ma da bajuki asa adonk saong saong mu
tung massai gomos do ho huhaol asa tung las ma daging mi

(Reff)
Hape dung saonari nunga leleng dang pajumpang dohot ho hasian
nunga adong sappulu taon atik naung muli do ho
Molo tung pe namuli pe taho dang na pola sala i hasian
asal ma huida bohimi asa tung sonang rohakki
anggo rokkap do ito Tuhan ta do umboto i


“Parsobanan” aslinya adalah “Loving Her Was Easier”

Banyak orang mengira lagu “Parsobanan” adalah lagu Batak asli, dan diciptakan oleh orang Batak.

Saking terkenalnya lagu ini di kalangan orang Batak, banyak yang mengira demikian. Tak kurang dari Marsada Band, band akustik yang ramai penggemar itu, turut mempopulerkannya.

Aslinya, lagu ini hanyalah gubahan lirik ke bahasa Batak dari lagu aslinya yang berjudul “Loving Her Was Easier” ciptaan Jose Feliciano (sebagaimana sudah diulas juga dalam blog ini).

Daulat Hutagaol, penulis lirik “Parsobanan” sendiri mengakuinya, seperti dimuat Dalihan Natolu News:

Selain menciptakan lagu rohani, Daulat Hutagaol juga menggubah lyrik lagu “Loving Her Was Easier” karya Josse Plesiona ke Bahasa Batak menjadi “Ai Diingot Ho Do Di Na Jolo”. Lagu ini hits di kalangan masyarakat Batak hingga saat ini. Dia juga menciptakan lagu “Pesta Adat”, “Joing” dan puluhan pop Batak dan Indonesia yang belum pernah direkam.

Hal ini patut disayangkan. Seandainya kita mau menjunjung tinggi etika kesenimanan, mestinya dalam koridor apresiasi sebuah karya, tetap ada tempat khusus untuk pencipta aslinya.

Ulas Lirik “Nahinali Bakkudu” Ciptaan Nahum Situmorang

Lirik Nahinali Bakkudu

Ue amang doli o amonge
(Hei, hei, hei)
Ue amang doli o amonge
(Hei, hei, hei)

Nahinali bakkudu da sian bona ni bagot
Beha maho doli songon boniaga so dapot
Ue amang doli o amonge

Boniaga sodapot lakku dope nasaonan
Beha maho doli tarloppo ho parsombaonan
Ue amang doli o amonge

Atik parsombaonan dapot dope da pinelle
Beha maho doli songon buruk-buruk ni rere
Ue amang doli o among e

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan

Boniaga sodapot lakku dope nasaonan
Beha maho doli tarloppo ho parsombaonan
Ue amang doli o amonge
(O Amonge)

Atik parsombaonan dapot dope da pinelle
Beha maho doli songon buruk-buruk ni rere
Ue amang doli o among e

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan (Paraul-aulan)

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan (Paraul-aulan)

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan


Ada beberapa versi yang menyanyikan lagu ini. Salah satu yang paling populer adalah versi yang dinyanyikan Victor Hubarat. Buat Saya pribadi, suara Victor masih yang paling tepat menyanyikannya sejauh ini.

 


Kasih Tak Sampai

Seperti pernah diulas juga sebelumnya di blog ini, “Nahinali Bakkudu” ciptaan Nahum Situmorang ini adalah contoh lirik lagu yang susastra. Jenis lirik yang kita mau lebih banyak hadir dalam lagu-lagu Batak zaman sekarang.

Nahum menuliskannya untuk menggambarkan dirinya yang merana karena “kasih tak sampai”. Keinginannya ditampik oleh wanita pujaan hati. Konon wanita pujaan hati ini adalah “pariban”-nya sendiri.

Sebagaimana kita ketahui, “pariban” atau “boru ni tulang” (putri dari laki-laki saudara ibu kita) adalah sosok yang menempati prioritas nomor satu sebagai wanita untuk diajak menikah menurut kebiasaan orang Batak zaman itu (mungkin juga masih berlangsung hingga sekarang).

Itulah sebabnya sampai sekarang, jika seorang pemuda Batak mendekati dan berencana menikah dengan seorang perempuan yang bukan “pariban”-nya, orangtua akan memberikan penguatan dengan umpasa ini:

Hot pe jabu i,

tong do magulanggulang

Sian dia pe dialap boru i,

tong do i boru ni tulang.

Dalam resepsi perkawinan dan ritual adat istiadatnya pun hal ini terlihat secara visual, antara lain dengan mekanisme berbagi “jambar hata” dan “jambar juhut” antara keluarga pemilik pariban dan keluarga pemilik perempuan yang dinikahi pemuda tadi. Jadinya, kedua keluarga itu adalah sama-sama “tulang” bagi pemuda tadi. Demikian sehingga “umpasa” di atas terkesan sebagai hata togar-togar atau kata-kata penghiburan saja bagi keluarga si pariban. Secara khusus untuk menghibur hati si ibu, yang dianggap orang yang paling bahagia jika putranya menikahi putri saudaranya.

Menarik memang membahas “marpariban” ini. Mengapa sampai sekarang bahkan arranged marriage ini masih menjadi primadona bagi banyak orang Batak? Termasuk bagi orang Batak yang mengaku maju sekalipun, tak sedikit mereka yang berpendidikan tinggi dan sadar penuh kekurangan dari perkawinan dengan pariban, tapi dalam praktek sehari-hari tetap mendukungnya. Dari segi hereditas, misalnya, disadari bahwa anak hasil dari perkawinan marpariban ini lebih rentan.

Tapi nanti jadinya melebar kemana-mana. Untuk saat ini kita fokus ke pesan atau nilai (value) yang mau disampaikan Nahum dalam “Nahuli Bakkudu” saja dulu.

Dengan kesadaran akan fakta kebiasaan di atas, tentu kita bisa mafhum bagaimana Nahum merasa diri tak berarti, tersingkir dari kehidupan, bagai tikar usang yang lusuh. Hatinya membeku tak bergeming untuk wanita yang lain. Segalanya terasa tersia-sia. Saking ekstrem-nya, Nahum menerima situasi “patah hati (mate rongkap)” ini sehingga ia sendiri, si pencipta lagu ini, tidak pernah menikah sampai akhir hayatnya.

Sampai disini, nuansa lagu menjadi murung. Terasa gelap benar jadinya. Berangkat dari kesan awal ini, pantas kita bertanya:

Pertama, apakah Nahinali Bakkudu melulu mewakili kemurungan dan kegalauan abadi seorang Nahum?

Kedua, ataukah justru lewat lirik ini secara tersirat ia ingin mengkritik kebiasaan masyarakat Batak zaman dulu yang memprimadonakan “kawin dengan pariban” sehingga jika seorang pemuda memilih wanita lain yang bukan paribannya jadi kurang didukung pihak keluarga?

Pertanyaan terakhir ini mungkin akan lebih kena dengan teman-teman Batak yang memutuskan tidak menikah hingga usia tua. Jumlah mereka cukup banyak dan sepertinya jumlah itu akan meningkat.

(Tren ini tidak baru sebetulnya, terutama di kota-kota besar. Di beberapa negara lain bahkan hal ini menjadi concern serius, misalnya di Korea Selatan dan Jepang, sampai-sampai pemerintah membuat program dan bantuan untuk mendorong para pemudanya menikah dan berketurunan).

Terbaca kesan sekilas: Kaum muda tidak begitu berminat lagi dengan perkawinan. 

Benarkah kesan ini? Mari kita selidiki, observasi langsung dengan lingkungan kita. Mungkin bisa dimulai dari skop terkecil, dari rumah sendiri, di lingkungan atau RT lalu ke masyarakat luas. Hasil observasi yang didukung statistik ini akan menjadi presentasi yang menarik.

Terlepas dari statistik, para “panglatu“ atau Panglima Lajang Tua” – label peyoratif yang disematkan untuk pria Batak yang memutuskan tidak menikah hingga lanjut usia – pasti menangis mendengar lagu ini. Pesannya kena dengan mereka. Bagi mereka yang besar dengan bahasa Batak sebagai bahasa sehari-hari, lagu ini lebih menyayat hati dibanding lagu “Kasih Tak Sampai” milik group band Padi, misalnya.

“Nahinali Bakkudu” adalah kidung ratapan mereka di tengah konstruksi budaya masyarakat Batak yang masih menganggap berketurunan sebagai sebuah keharusan. Membujang hingga akhir hayat adalah aib yang mesti dihindarkan. Secara jelas dan kejam, Nahum menulisnya:

” … mate ma ho amang doli, mate di paralang-alangan”

Dari dua pertanyaan di atas, mana yang hendak dijawab Nahum dengan Nahinali Bakkudu? Yang pertama atau yang kedua?

Kita tidak tahu.

Mungkin juga kita tidak akan pernah tahu sebab Nahum sendiri membawa apa maksud asli lagu ini hingga ke liang kuburnya.

Lirik Susastra dan Semiotika Ringkas

Lirik “Nahinali Bakkudu” (Nahinali bangkudu) di atas, jika kita amati, terdiri atas beberapa repetisi (pengulangan syair). Jika kita peras, maka lirik utamanya adalah sebagai berikut.

Na hinali bangkudu da sian bona ni bagot
Boha ma ho Doli songon boniaga so dapot
Ue, Amang Doli o Among e

Boniaga so dapot langku dope masa onan
Boha ma ho Doli tarlompoho parsombaonan
Ue Amang Doli o Among e

Atik parsombaonan dapot dope da pinele
Boha ma ho Doli songon buruk-buruk ni rere
Ue amang doli o Among e

(Refrain)
Mate ma ho Amang Doli
Mate diparalang-alangan da Amang
Mate di paraula-ulan

Ini terjemahan lepas dalam Bahasa Indonesia.

Sedangkan ulat terikat, dicari dari batang pohon enau.
Betapa dirimu pemuda, bagai dagangan yang tidak laku terjual
Wahai anak muda, oh pemuda

Dagangan yang tidak laku pun masih bisa terjual pada hari pasar berikut
Tetapi kau, anak muda seperti persembahan keramat (parsombaonan) yang harus dihindari
Wahai anak muda, oh pemuda

Sedangkan tempat keramat masih dapat dipuja
Tetapi engkau anak muda, seperti tikar usang, lusuh
Wahai anak muda, oh pemuda

Malangnya dirimu Pemuda
Mati sia-sia tak berguna, o anak muda
Hidup bagai orang yang mati…


Saya sendiri awalnya mengalami kesulitan memahami persis arti kata-kata dalam Nahinali Bakkudu ini. Penasaran, kutanya teman-teman lain bahkan ke orangtua. Hasilnya? Sama. Mereka juga mengaku tak mengerti benar arti dari beberapa diksi klasik Batak yang tak biasa dalam gubahan Nahum ini. Ya sudah, kuputuskan mencari sendiri.

Mari kita coba telisik beberapa diksi tak biasa yang dimaksud dan apa padanan artinya dalam bahasa Indonesia.

  1. na hinali: yang terikat
  2. bangkudu = heat, ulat yang nantinya jadi kumbang
  3. bona ni bagot: pohon enau
  4. boniaga: barang dagangan
  5. parsombaonan: persembahan untuk upacara sakral
  6. paralangalangan: nasib tak menentu, “mocok-mocok” (bahasa prokem Medan)
  7. paraulaulan: (sama dengan no. 6)

Bangkudu atau heat memang umumnya berhabitat hanya di bona ni bagot (pohon enau). Bentuknya mirip hirik atau jangkrik, berwarna kuning kehijauan. Kadang juga terdapat di pohon kelapa yang busuk. Bangkudu diambil untuk dimakan setelah direbus, digoreng atau dipanggang. Ukuran Bangkudu sebelum metamorfosa jadi kepompong dalam tanah adalah sebesar jempol. Ia diyakini obat yang sangat manjur untuk pemulihan sel-sel rusak dalam tubuh manusia.

(Masih belum terkonfimasi entah persis sama atau tidak, inilah makhluk yang dalam bahasa Karo disebut Kidu, dan bagi orang Karo masih menjadi lalapan favorit. Seorang teman medsos berkata bahwa di pasar Pancur Batu Medan setiap hari ada yang menjual kidu ini, selalu cepat habis sebelum jam 6 pagi karena banyak pembeli atau sudah dipesan terlebih dahulu).

Disinilah salah satu kelebihan Nahum: Ia seorang pembanding yang jenius. Ia mampu menciptakan komparasi (pembandingan) yang hebat berangkat dari benda atau makhluk yang sehari-hari sering dijumpai orang Batak pada zamannya, lalu tiba-tiba tanpa sadar kita dibawanya pada bahasan filosofis yang berat.  Komparasinya mulai dari hal sederhana (gradus positivus), naik ke analogi lain yang lebih dalam artinya (gradus comparativus), hingga berakhir pada makna puncak (gradus superlativus). Dan semua aspek itu dimasukkannya sembari tetap menjaga supaya lirik tetap kedengaran enak, antara lain dengan menjaga kaidah sajak.

Untuk memahaminya, Saya mengusulkan parafrase ini.

GRADUS POSITIVUS (NORMAL/COMMON)

Ulat enau, si lalapan favorit itu adalah dagangan yang laku dijual. Mengapa kau, seorang manusia, malah tidak laku-laku?

Sajak A-A: bagot - dapot

GRADUS COMPARATIVUS (COMPARATIVE)

Bahkan dagangan yang tak habis terjual hari ini, besoknya pada hari yang tepat (di pasar) ia akan laku juga. Mengapa kau, seorang manusia, malah seperti persembahan keramat saja, tidak laku-laku?

Sajak A-A: masa onan - parsombaonan

GRADUS SUPERLATIVUS (SUPERLATIVE)

Bahkan persembahan keramat pun – sekalipun jarang digunakan – tetap juga laku jual, ia dipakai orang pada acara pemujaan. Mengapa kau, seorang manusia, tidak laku-laku?

Sajak A-A: pinele - rere

Tak cukup sampai disana, ia mengambil analogi buruk lainnya (kembali ke hal-hal umum) dengan menyebut nasib pemuda tadi bagaikan “buruk-buruk ni rere“, yakni umbai tikar pandan yang sudah rusak, tentu tidak ada gunanya lagi selain untuk dijadikan sampah dan dibuang atau dibakar. Kurang lebih, “buruk-buruk ni rere” ini sama kandungannya dengan frase populer kekinian sekarang di tengah anak remaja, yakni “seperti remahan renggingang yang tercecer di jalan, tak dihiraukan orang, dianggap sepi, bahkan diinjak tanpa perasaan bersalah sedikitpun

Jleb! Ngeri sekali.

Kabar Baik dan Tugas Penting

Sebuah kabar gembira bagi pecinta lagu Nahum: Walaupun Nahum Situmorang (mungkin) gagal dalam percintaan, tetapi dia sukses merebut hati masyarakat Batak di bidang musik. Walaupun dia sudah lama meninggal tetapi namanya tetap harum sebagai legenda musik Batak.  “Nahinali Bakkudu” hanya satu dari sekian banyak karya hebatnya.

Jika pun Nahum tak bisa memenuhi sekaligus ketiga kriteria sukses orang Batak, yakni  Hamoraon (kekayaan), Hagabeon (keturunan), dan Hasangapon (Kehormatan), tapi dia mendapat keberhasilan luar biasa pada aspek Hasangapon. Dia mati terhormat. Tak tanggung-tanggung, ia meninggalkan legacy berupa lagu-lagu indah dengan syair puitis.

Akan tetapi, sama seperti setiap kabar gembira, selalu ada tugas dan tanggungjawab di dalamnya. Jika untukmu lirik lagu Nahum bagus, apakah kebagusan itu juga bisa dirasakan oleh anak-anak remaja masa kini, yang berbahasa Batak saja tidak lagi mampu, konon pula memahami dan menikmati keindahan syair Nahum?

Ini pertanyaan yang bagus direnungkan.


Sebuah pertanyaan menohok lainnya yang juga kuusulkan menjadi tendens dari Nahinali Bakkudu:

Apakah generasi bona pasogit yang menyebut diri pecinta lagu Nahum juga siap menerima konsekusensi jika anak mereka total menempuh jalan hidup seperti yang dilakukan Nahum? Berkesenian sampai mati tanpa meninggalkan banyak harta serta tidak meninggalkan keturunan biologis? Soalnya ada yang menggelikan juga. Banyak orangtua senang melihat anak kecilnya menggemari musik, tetapi ketika sudah dewasa si anak justru dijauhkan dari totalitas dalam karir musik, malah diarahkan untuk mencari pekerjaan lain yang lebih jelas uangnya, yang lebih mapan tampilan luarnya.


Habang binsakbinsak,
tu pandegean ni horbo
Unang hamu manginsak,
ai i dope na huboto

Luxury is in Simplicity

Apa godaan terbesar ketika berbicara? Berbicara dengan istilah yang rumit. Jika perlu dengan meminjam kata dari bahasa asing. Ekstremnya, sebisa mungkin sampai pendengar takjub karena bingung apa yang disampaikannya. Tujuannya untuk menciptakan sense of authority. Ibarat mau pamer ke penonton talkshow: “Ini loh. Kalian mesti tau, untuk topik ini, gue yang paling ahli dibanding lawan bicara gue ini”. Apakah pendengar memahami atau setidaknya bisa mengikuti alur pembicaraan, itu persoalan lain.

Apa godaan terbesar ketika menulis? Mirip dengan berbicara tadi. Menggunakan banyak kutipan terpercaya dari sumber yang sebisa mungkin susah diakses oleh pembaca. Tujuannya sama, sense of authority. Jika perlu ditambahi dengan istilah yang tak lazim. Ibarat mau pamer ke pembaca berita: “Ini loh. Kalian mesti tau, untuk tema ini, gue yang paling ahli dibanding penulis lain”. Apakah pembaca memahami atau setidaknya bisa mengikuti alur pikiran penulis, itu persoalan lain.

Apa godaan terbesar ketika berkesenian? Eh, sebentar. Kata “berkesenian” ini tampaknya biasa. Tapi kok susah mengartikannya ya. Gini. Berkesenian berarti mengikuti kaidah membuat karya seni, memahami tujuan dan dampaknya bagi penikmat karya, termasuk dirinya sendiri yang ikut terlahir kembali bersama terbitnya sang karya. Njelimet ya.

Apa godaan terbesar ketika hendak mencipta lagu? Mengakomodasi semua teori musik yang pernah dipelajari. Sebisa mungkin memuat banyak liukan interval akor, progresi, modulasi. Jika perlu, gabungkan semua jenis tangganada yang pernah dikenal manusia, termasuk yang mengabaikan nada dasar seperti yang dilakukan komposer zaman Romantik Pierrot Lunaire dengan komposisi atonalnya. Kalau masih bisa, tumpahkan semua elemen sinestesia dan bablas dalam mengartikan licentia poetica saat mencipta liriknya. Apakah pendengar bisa menikmati alunan nadanya? Itu soal lain. Apakah begitu mendengarnya seorang penikmat lagu langsung bisa merasakan motif lagu tersebut? Ora urus.

Alhasil, tidak ada pendengar yang tertarik dengan omongannya. Podcast atau konten Youtube edisi berikutnya akan sepi view. Tidak ada pembaca yang akan kembali melirik tulisannya apalagi berniat membeli bukunya. Tidak ada pendengar yang akan setia menunggu lagu berikutnya dari si pencipta lagu.

Lalu ketiga jenis seniman tadi pun heran. Kecewa karena menurut mereka, konsumen kurang mengapresiasi karya yang sudah dengan susah-payak mereka ciptakan. Ibarat pedagang: lapaknya rame saat grand opening, tetapi hari-hari berikutnya tak satupun pembeli datang.

Apa yang salah?


Suhunan Situmorang, seorang pengacar dan penulis lepas yang rutin mengisi dinding Facebook-nya dengan opini ringan namun mengena, pernah menulis begini (saya kutip seperlunya):

Sadarilah.

Mari tulis kisah dan pengalaman sehari-hari, juga alam sekitar, tradisi masyarakat, atau ketika tinggal di desa. Situasi kotamu kini pun menarik ditulis, termasuk perubahan-perubahan dalam pelbagai hal.

Kehidupan di medsos tak melulu bicara topik dan isu yang keras, sayangi otak dan jiwa yang juga butuh senyum dan tawa lepas. Ceritakanlah kenangan atau pengalaman yang membekas, atau harap yang tak terbatas. Cita dan impian perlu dirancang, setidaknya untuk menambah semangat melakoni kehidupan–kendati kemudian tak sama dengan realitas. Alangkah lelah membicarakan hal-hal yang tak terjangkau diri, sementara ada banyak kewajiban yang butuh enerji.

Kisahkanlah desa atau kotamu, atau pengalaman lucu. Tulislah dengan semangat berbagi cerita, niscaya pembaca menemukan yang berharga, kendati tak diucapkan secara terbuka. Tulislah cerita dan puisi, potretlah panorama dan suasana di suatu kampung atau sudut kota. Tampilkan dengan narasi bertutur. Alangkah menarik bagi yang berpikiran luas.

Berceritalah, memotretlah, atau bagikan resep-resep masakan, cara menanam dan merawat tanaman, atau tips supaya awet muda.

Bernyanyilah bagi yang suka, bercandalah untuk membuat pembaca tertawa.


Fiksimini tentang tiga pekerja seni diatas ditambah tulisan singkat Suhunan tadi mengajak kita untuk kembali ke prinsip dasar komunikasi, yakni: Apa yang sampai ke penikmat (baca: pembaca, pendengar) itulah yang penting.

Bukan soal seberapa banyak terminologi yang dimiliki seorang pembicara, tetapi apakah pendengar memahami apa yang dibicarakan. Bukan soal seberapa rumit penjelasan yang disampaikan penulis, tetapi apakah pembaca mengerti gagasannya. Bukan soal seberapa tinggi ilmu dan musikalitas si pencipta lagu, tetapi apakah lagu tersebut benar-benar mengena di telinga penikmatnya. Itulah yang penting.

Kunci untuk membuat sebuah karya mengena dengan penikmatnya adalah sentuhan emosional atau afeksi. Meminjam lirik lagu Ari Lasso, “sentuhlah dia tepat di hatinya“, sentuhlah penikmat karyamu dengan sesuatu yang bisa mereka rasakan. Sesuatu yang dekat dengan kehidupan, mimpi dan kesedihan mereka. Bahasa kerennya: sesuatu yang relevan dan relatable.

Jika pembaca membaca tulisanmu lalu menggumam dalam hati, “ini kok persis kayak yang aku alami ya”, itulah sukses. Jika seorang netizen mengunjungi lagu yang baru kau rilis di kanal Youtube-mu lalu memberi komentar “Sedih banget lagunya, Min, kayak kisahku”, itulah sukses.

Tampaknya inilah yang perlahan semakin disadari teman Saya, seorang pemusik dari Sumatera Utara yang merantau ke Jogja. Rimanda Sinaga namanya. Baru-baru ini kami ngobrol.  Di akhir percakapan kami yang berjam-jam itu, dia bilang: Lagu yang bagus itu lagu yang sederhana. Sebuah lagu yang begitu didengar, para penyanyi trio di lapo tuak bisa serta-merta mengambil gitar dan menyanyikan suara 1, 2 dan 3. Sebuah lagu yang begitu selesai didengar di HP, orang bisa membuat versi Karaoke-nya sambil mengguyur tubuh atau berkumur-kumur di kamar mandi.

That’s it. Luxury is in simplicity. Kemewahan yang sebenarnya terletak pada kesederhanaan.

Oh iya. Ada lagunya yang menurutku cukup bagus. Latarnya sangat personal karena diangkat dari kisah pribadinya sendiri, yakni momen ketika ditinggal oleh ayah tercinta. Beberapa orang merasa relevant dan relate pula dengan lagu itu. Bahkan ada yang menyanyikannya di acara keluarga. Barangkali lirik hasil kolaborasi Rimanda Sinaga dan Subandri Simbolon menyentuh mereka.

Sedikit catatan kritis: Dalam taksonomi ende Batak Toba, liriknya masuk ke kategori ende andung (lagu ratapan). Jika hendak diletakkan sejajar dengan andung Batak lainnya, lagu ini butuh penyederhanaan di bagian tertentu, dan polesan di bagian lain.

Judul lagu itu “Posma Roham Dainang”. Ini lirik dan video Youtube-nya. Cekidot.


POS MA ROHAM DAINANG

Tingki parro ni bot ni ari

Hundul Dainang, huhut malungun

Mancai borat do di rohana

Dung borhat Damang

tu haroburan i

 

Uli pe sinondang ni bulan

Mambahen roha, sonang humaliang

Alai Dainang sai mardok ni roha

Boha bahenon pasonang roha na i

 

Reff:

Posma roham ale Inong na burju

Nungnga tung sonang sohariburan i

Damang di siamun ni Tuhan i

Sai tagogoi ma lao martangiang

Bereng ma hami angka gellengmon

Na sai tontong manghaholongi ho

Unang be sai tartundu malungun

Naro do angka ari na uli i

 

Nama para kru yang terlibat tercantum di video.

Konon, selain aku, banyak pula yang masih masih menunggu karyanya yang berikutnya setelah dia mengalami pencerahan (enlightenment) ini.

Lirik Lagu “Walls” – Louis Tomlinson

Menjadi seorang musikus, pesepakbola, filantropis di usia sangat muda adalah sesuatu yang prestisius. Tak banyak yang bisa mencapainya. Salah satunya Louis Tomlinson. Maka, tak heran, bersama dengan klip-klip KPop lainnya, wajah dan lagunya menghiasi Instagram Story dari teman-temanku, yang kebanyakan adalah anak SMA.

Oke. Jadi, anak-anak SMA saja mengenal dan mengidolakan pentolan One Direction ini. Itu awal yang membuatku berniat mencari informasi tentang orang ini. Oh iya, sebagai generasi usia tiga puluhan, menurutku salah metode mencari minat siswa SMA yang kuajar adalah mengenali tokoh yang mereka idolakan. Kupikir, konsekuensi logis untuk membangun komunikasi tepat sasaran dengan orang lain tanpa terjebak dalam kecanggungan dan perbedaan informasi akibat kesenjangan generasi (generation gap) yakni dengan mencoba mengenali mereka. Siapa yang mereka dengarkan dan jadikan inspirasi.

Jadi, siapa sih si Louis ini?

Meniti karir di bidang entertainment sebagai seorang aktor, Louis William Tomlinson menjelma menjadi music influencer di negara asalnya Inggris, dan disini, di Indonesia. Penyanyi kelahiran 24 December 1991 dengan nama Louis Troy Austin ini, meski masih sangat muda, telah menorehkan inspirasi melalui pekerjaan dan pencapaiannya. Meski sudah mendapat peran di film If I Had You dan drama BBC Waterloo Road, pemuda dengan ambisi yang jelas bukan medioker ini, tidak puas. Ia hendak mencapai jenjang karir dan public coverage yang lebih luas.. Maka pada 2010, Louis mengikuti audisi British The X Factor. Dia tereliminasi dari daftar penyanyi solo, lalu digabungkan dengan empat kontestan lainnya. Jadilah One Direction.

Ia pun tak terhentikan sejak itu. Ia terus menelurkan album. Lagu-lagunya mendapat pengakuan bergengsi. Tak hanya itu, dia juga memiliki label rekaman sendiri, yakni Triple Strings. (Cek saja Wikipedia untuk info lengkapnya.)

Sepertinya Louis memang beneran punya “faktor X” seperti yang dicari audisi itu. Sesuatu yang unik, yang dimiliki secara berintegritas oleh seorang seniman. Pada platform kompetisi yang menjadi pintu gerbangnya masuk ke industri musik itu pun, Louis menjadi juri di The X Factor edisi XV sekaligus pelatih untuk peserta vokal pria. Dalam konteks sama-sama mantan kontestan, Louis menjadi pelatih juara pertama, karena bocah yang dilatihnya, Dalton Harris, memenangkan pertunjukan itu.

Album terbarunya yang dirilis awal tahun 2020 yang lalu, “Walls” memuat lagu dengan judul yang sama. Aku tak sempat mendengarkan lagunya yang lain dengan seksama. Tapi, kudengar lagu ini, dan aku suka. Pencapaiannya di dunia nyata yang menjadi inspirasi bagi para pendengarnya, tergambar pula dalam lirik lagu ini.

Satu lagi, untukku, di lirik lagu ini Louis jadi terdengar dan mirip dengan penyanyi favoritku Robbie Williams. Terutama Robbie saat menyanyi “Angels”.

Ini dia lirik lengkap “Walls”.

 


Nothing wakes you up like waking up alone
And all that’s left of us is a cupboard full of clothes
The day you walked away and took the higher ground
Was the day that I became the man that I am now

But these high walls, they came up short
Now I stand taller than them all
These high walls never broke my soul, and I
I watched them all come falling down
I watched them all come falling down for you
For you

Nothing makes you hurt like hurtin’ who you love (hurting who you love)
And no amount of words will ever be enough (never be enough)
I looked you in the eyes, saw that I was lost (saw that I was lost)
For every question “why”, you were my “because” (you were my “because”)

But these high walls, they came up short
Now I stand taller than them all
These high walls never broke my soul, and I
I watched them all come falling down
I watched them all come falling down for you
Falling down for you

So this one is a thank you for what you did to me
Why is it that ‘thank you’s’ are so often bittersweet
I just hope I see you one day and you’ll say to me, “Oh, oh”

But these high walls, they came up short
Now I stand taller than them all
These high walls never broke my soul, and I
I watched them all come falling down
I watched them all come falling down for you
Falling down for you

Nothing wakes you up like waking up alone


Sumber:

  1. Wikipedia
  2. Hype Auditor

 

Ende Mandideng dari India

Disarankan untuk mendengarkan dalam volume rendah. Kalau volume terlalu besar, nanti bukannya tidur, si bayi malah jingkrak-jingkrak atau malah ngakak guling-guling. Tentu, kita tidak menginginkan itu. 

 

Ende mandideng adalah musik vokal yang berfungsi untuk menidurkan anak, dalam bahasa lain kita kenal sebagai lullaby, lagu nina bobo atau pembawa tidur.

Lagu dalam audio ini adalah mantra kuno yang dinyanyikan pada saat kelahiran bayi atau proses persalinan. Bagi para praktisi Hindu, mantra ini adalah bagian dari Jaathakarma, sebuah ritual yang diyakini membawa keberuntungan bagi si bayi dan mendatangkan berkat sebelum tali pusarnya dipotong. Ini liriknya dalam bahasa Sanskerta (bisa kamu lihat juga pada gambar poster audio ini)

Ohm …

Angaadangaat sambhavasi
hridayaadadhijiyase
Atma vai putranamaasi
sa jiva sharadaam shatam

Ohm …

Buat my new born baby Pedro Sahala Haromunthe, ini lagu untukmu.

Tak perlu malu aku pamer disini, sebab isinya tak lain adalah doa.

 

Asa,

“Anakkhonhu hasian, nunga ro be ho tu hangoluan on, ro sian mudar nang pamatanghu. Mariaia rohakku, gok pasupasu alani haroromi, O tondikki. Hupio ma ho anakki. Sai mangolu ma ho di portibi on saratus taon nai.”

 

CINTA, PUISI, NADA, BUNGA

Tetralogi Agung: CINTA -PUISI – NADA – BUNGA

Cinta adalah sebuah perasaan yang unik. Setiap orang dengan jiwa yang sehat memilikinya, dan masing-masing memiliki cara untuk mengungkapkannya.

Ada yang mengungkapkannya berupa kata-kata lewat puisi. Tak cukup dengan kata-kata, digabungkannya dengan nada. Jadilah puisi digubah lagu. Jangan lupa, sejatinya lagu adalah puisi yang dinyanyikan.

Ada juga yang suka mengungkapkannya melalui bunga.

Bagaimana kalau ketiganya digabungkan?

Voila! Jadilah lagu tentang bunga.

Bagi si penggubah tentu saja ia berharap, alamat lagu tersebut memahami betapa dalamnya rasa cinta yang dimiliki. Bagaimana tidak, ia tidak mau menjadi perayu medioker (setengah-setengah) yang hanya memilih salah satu dari ketiga instrumen di atas. Ia menggabungkan ketiganya.

Simbologi bunga sangat padat. Seakan menjadi simpul dari sebuah tetralogi agung bagi jiwa-jiwa yang memuja romansa. Karena padatnya, kerap kata-kata dan uraian tak cukup menggambarkannya secara akurat. Namanya juga afeksi ya kan. Penjelasan ilmiah nan runtut tidak selalu jadi jawaban. Bahasa simbol yang sederhana dan mengena, lebih sering menjadi jawabannya. Konon itulah alasan mengapa simbologi dan ikonografi menjadi abadi dalam ingatan manusia.

Tampaknya hal ini disadari oleh banyak musikus sehingga bertebaran lagu tentang bunga.

Berikut ini beberapa lagu bagus dengan lirik Bahasa Indonesia. Masih ada banyak lagu lain tentang bunga, tapi Saya kurang suka.

Kok?

Ya tidak apa-apa. Namanya juga selera. Ya kan?

Oh, iya. Saya sendiri lebih suka dengan lagu dibanding bunga. Tidak tahu mengapa. Barangkali karena memang tidak terbiasa saja dengan bunga.


Rommy Sangka – Bunga

Setelah pertemuan itu
Perasaan hati beda
Tak sadar terpikat cintamu
Walau hanya bisa kusimpan

Mengingatmu tak ada habisnya
Memikirkanmu karena kusuka
Bayang wajahmu s’lalu kurindu
Mungkinkah ‘kan terulang kisah kita?

Belum sempat aku katakan
Sampai saat kita berpisah
Engkau bagaikan bunga
Menebarkan harummu

Baru sekali ku berjumpa
Dirimu yang terindah
Engkau bagaikan bunga
Meruntuhkan hatiku

Tak sadar terpikat cintamu
Walau hanya bisa kusimpan

Mengingatmu tak ada habisnya
Mungkinkah ‘kan terulang kisah kita?

Belum sempat aku katakan
Sampai saat kita berpisah
Engkau bagaikan bunga
Menebarkan harummu

Baru sekali ku berjumpa
Dirimu yang terindah
Engkau bagaikan bunga
Meruntuhkan hatiku

Huuu …
Huuu …


Thomas Arya – Bunga

Merana kini aku merana

Kekasih tercinta entah ke mana

Sendiri kini ‘ku dibalut sepi

Tiada tempat ‘tuk bercurah lagi

Di mana kini entah di mana

Bunga impian yang indah di mata

Kurindu tutur sapamu nan manja

Saat kau barada di sisiku

Kini tinggal aku sendiri

Hanya berteman dengan sepi

Menanti dirimu kembali

Di sini kuterus menanti

Akan kucoba untuk

Menanti dirimu, kekasih

Oh bunga

Di mana kini kau berada

Jangan biarkan diriku

Dalam keseorangan

Oh bunga

Jangan kau gores luka di dada

Sungguh diriku takkan kuasa

Campakkan kenangan

Ho ho ho …

O-oh bungaku

Ho ho ho …

O-oh bungaku

Merana kini aku merana

Kekasih tercinta entah ke mana

Sendiri kini ‘ku dibalut sepi

Tiada tempat ‘tuk bercurah lagi

Di mana kini entah di mana

Bunga impian yang indah di mata

Kurindu tutur sapamu nan manja

Saat kau barada di sisiku

Kini tinggal aku sendiri

Hanya berteman dengan sepi

Menanti dirimu kembali

Di sini kuterus menanti

Akan kucoba untuk

Menanti dirimu, kekasih

Oh bunga

Di mana kini kau berada

Jangan biarkan diriku

Dalam keseorangan

Oh bunga

Jangan kau gores luka di dada

Sungguh diriku takkan kuasa

Campakkan kenangan

Ho ho ho …

O-oh bungaku

Ho ho ho …

O-oh bungaku

Ho ho ho …

O-oh bungaku

Ho ho ho …

O-oh bungaku

 


Boomerang – Bungaku

Bungaku, kudengar panggilmu
Bungaku, aku pun rindu
Maafkan ‘ku harus pergi
Mengejar semua mimpi yang berarti

Cobalah ‘tuk hayati artimu
Tiada yang dapat menggantikan
Hadirmu

Jalani dan jangan bersedih
Hapuslah air matamu
Lepaskan risau hatimu
Pastikan semua mimpi ‘kan berarti

Hayati penting artimu bagiku
Bintang pun tak dapat menggantikan
Hadirmu

Kembali kudengar panggilmu
Bungaku, aku pun rindu
Maafkan ‘ku harus pergi
Bungaku, aku pun rindu

Bungaku, aku pun rindu
Bungaku, aku pun rindu


Koes Plus – Bunga di Tepi Jalan

Suatu kali kutemukan
Bunga di tepi jalan
Siapa yang menanamnya
Tak seorang pun mengira
Bunga di tepi jalan
Alangkah indahnya
Oh, kasihan
‘Kan kupetik sebelum layu

Di sekitar belukar
Dan rumput gersang
Seorang pun tak ‘kan mau
Memperhatikan
Biarlah ‘kan kuambil
Penghias rumahku
Oh, kasihan
‘Kan kupetik sebelum layu

Di sekitar belukar
Dan rumput gersang
Seorang pun tak ‘kan mau
Memperhatikan
Biarlah ‘kan kuambil
Penghias rumahku
Oh, kasihan
‘Kan kupetik sebelum layu

Meski lagu aslinya diciptakan oleh Koes Plus, tapi versi Sheila on 7 ini terdengar lebih merdu di telinga


Bebi Romeo – Bunga Terakhir

Kaulah yang pertama
Menjadi cinta tinggallah kenangan
Berakhir lewat bunga seluruh cintaku untuknya

Bunga terakhir
Ku persembahkan kepada yang terindah
Sebagai satu tanda cinta untuknya

Bunga terakhir
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang ‘tuk selamanya
Ohh

Betapa cinta ini
Sungguh berarti tetaplah terjaga
Selamat tinggal kasih ‘ku telah pergi selamanya

Bunga terakhir
Ku persembahkan kepada yang terindah
Sebagai suatu tanda cinta untuknya

Bunga terakhir
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang ‘tuk selamanya

Kaulah yang pertama
Menjadi cinta tinggallah kenangan
Berakhir lewat bunga seluruh cintaku untuknya
Ohh-uwo

Bunga terakhir
Ku persembahkan kepada yang terindah
Sebagai satu tanda cinta untuknya

Bunga terakhir
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang ‘tuk selamanya


Dewa 19 – Bunga

Begitu banyak bunga ditamanku
Slalu menanti saat untuk dipetik
Ada yang merah dan ada yang putih
Kuning dan ungu
Beragam warnanya
Beragam warnanya

(Chorus):
Tuhan tolonglah aku
Beri satu petunjuk
Aku ingin bahagia
Berikanlah yang indah
Untuk diriku ini
Untuk slama – lamanya
Satu bunga yang indah
Satu bunga yang indah

Mama papa mohon nilai rangkaian
Rangkaian bunga aku mohon restumu
Bila nanti ada yang tak berkenan
Katakan saja aku slalu mendengar

(Chorus)

Banyak bunga layu sebelum berkembang
Ada yang terindah tapi wanginya tak slalu
Seindah bentuknya malah mungkin durinya
Menusuk hatiku lukai cintaku
Tapi kuyakin nanti ada satu untukku
Harumi hari mengharumi hari

(Chorus 2x)


Slank – Mawar Merah

Memang ku tak mampu belikan dia perhiasan … tak pernah
Atau memberi kemewahan

Tapi kuyakin dia bahagia
Tanpa itu semua…

Walau memang dirimu bernasib baik … bapak lo kaya
Yang selalu kau andalkan untuk mendapatkannya

Percuma kau dekati dia
Karena cintanya pasti untukku

Aya ya ya… simpan saja uangmu
Aya ya ya . …bawa pergi mercy mu
Aya ya ya … Enyahlah dari bunga mawarku
Aya ya ya… Enyahlah dari mawar merahku …
Karena dia milikku

Memang penampilanku, juga rupaku Slengean
Memang cara hidupku tak teratur pengangguran (kata orang sih!)

Tapi ku yakin dia bahagia

karena dia mawar merahkuuu

 


Bunga secara umum ternyata sudah menjadi simbol yang sudah tua untuk mengungkapkan cinta. Terutama mawar merah, bahkan sudah tercatat pada ikonografi Yunani Kuno dan Romawi Kuno.

Mawar Merah selalu diasosiasikan dengan Dewi Cinta yaitu Aphrodite (Yunani) atau Venus (Romawi).

Pada fase awal perkembangan Kekristenan, simbol bunga mawar merah melekat dengan keutamaan Bunda Maria.

Selanjutnya, si penyair Inggris zaman babon, yakni Shakespeare, ikut pula meneruskan kebiasaan itu. Bahkan menjadikannya sebagai standar puitis. Diikuti pula oleh penyair berikutnya semacam Gertrude Stein.

Begitulah bunga mawar merah mewakili bunga-bunga lain sebagai simbol puncak untuk melukiskan perasaan cinta yang sungguh-sungguh.

Oh iya.

Kamu, pernahkah merasakan cinta yang sangat mendalam sampai tak mampu kamu curahkan dalam kata-kata?

Kalau iya, sudah saatnya kamu juga mencipta lagu tentang bunga.

 

Selamat Natal Papuaku

 

Daripadanya ada berkat melimpah,

yang terbentang luas di tanah Papua

Kini Dia lahir datang bagi dunia

Juga untuk kita semua

 

Kita terpisah gunung dan lembah

dan tidak saling bertatap muka

hanya lewat lagu ini

kami ucapkan

 

Selamat Natal Saudaraku Timika sampai Tembagapura

Selamat Natal saudaraku di Biak, Mappi dan Nabire

 

Selamat Natal Saudaraku di Paniai dan Waropen

Selamat Natal Saudaraku Serui, Duga dan Lanny Jaya

 

Selamat Natal Saudaraku di Membramo dan Tolikara

Selamat Natal Saudaraku yang di Sarmi dan Puncak Jaya

 

Selamat Natal Saudaraku di Jayapura dan Wamena

Selamat Natal Saudaraku Keerom dan Pegunungan Bintang

 

Selamat Natal Saudaraku Asmat, Dogiyai dan Intan Jaya

Selamat Natal Saudaraku Puncak Papua dan Supiori

 

Selamat Natal Saudara Deiyai dan kota Nusa Merauke

Selamat Natal Papuaku, Tuhan memberkati

 

Meski Berat, Doakan yang Baik untuk Mantanmu

Manganju nimmu nunga hubahen
Mangelek nimmu nga hu ulahon
Pangidoanmu sitauhulehon do
Asalma boi sonang rohami
Saleleng dohot au

Setia nimmu nunga hubahen
Unang mardua nga hu ulahon
Sudenai ito gabe balik do
Laos gabe ho do na lao mardua dalan
Dohot sidoli i

Reff:
Saonarion ito tuntunma lomom
Dang sipangorai au manang sipanjujui
Nunga tung haccit hu hilala hasian manghaholongi ho

Alai ingotma ito mardalan do sapata
Molo na denggan doi denggan do jaloonmu
Molo na haccit songon pambaenanmon tu au
Haccit do jaloonmu

Horas ma di ho ito
Dohot sidoli halletmi
Horasma di au ito
Na tininggalhonmon


Lagu ini enak. Renyah di telinga. Cuma, Saya punya ‘sedikit’ catatan kritis pada bagian liriknya.

Secara umum liriknya adalah ungkapan hati seorang lelaki – yang merasa sudah melakukan semampunya semua hal yang diminta kekasihnya – tetapi toh akhirnya ditinggalkan.  (Di video tersedia juga subtitel bahasa Indonesia bagi yang tidak memahami bahasa Batak).

Kritik yang kumaksud adalah terhadap penggalan lirik ini:

“Alai ingotma ito mardalan do sapata
Molo na denggan doi denggan do jaloonmu
Molo na haccit songon pambaenanmon tu au
Haccit do jaloonmu”

“Sapata” berarti “karma”.

Jadi, kalau diterjemahkan secara bebas kurang lebih si lelaki hendak melampiaskan kegeramannya sambil menyumpah mantan yang meninggalkannya. Begini:
(Mungkin sembari menangis sesenggukan ala cowok bucin metroseksual, dambaan ciwi-ciwi motor metic yang kalau mau belok kanan pasang lampu sein ke kiri)

Tapi, asal kamu tau ya.

Karma itu berjalan.

Kalau kamu menabur yang baik, kamu akan menuai yang baik.

Tapi kalau kamu membuat sakit hati, seperti yang kamu lakukan ke aku sekarang ini,

Ingat, kamu juga akan menerima yang sakit

 

Sepintas tak ada yang aneh. Toh benar kan? Berlaku hukum tabur-tuai (bagi yang mempercayainya). Jika kamu melakukan sesuatu yang baik, niscaya (dibantu oleh segenap alam semesta) kamu akan mendapatkan yang baik pula. Jika kamu melakukan yang buruk, niscaya (dibantu oleh segenap alam semesta) kamu akan mendapatkan yang buruk pula. Makna yang mirip juga sebetulnya bisa kita dengar pada lagu yang dinyanyikan Ambisi Trio “Dos do Nakkokna” ciptaan Iran Ambarita: Molo sinuan hassang, hassang do na tubu. Molo sinuan gadong, gadong do na tubu. Molo sinuan na denggan, sai na denggan do na ro. Molo sinuan na roa, sai naroa do na ro.

Terus, masalahnya dimana?

Pertama sekali penting diingat bahwa jika sebuah karya seni (termasuk lagu) dipublikasikan, maka karya itu menjadi bagian dari masyarakat. Hak cipta dan hak terkait lainnya memang adalah milik pencipta atau label rekaman yang memproduksinya, tetapi alamat dari pesan lagu tersebut adalah masyarakat. Karena itu, jika liriknya tepat, publik akan menjadikannya sebagai lagu yang pantas ditiru, dinyanyikan ulang, bahkan dijiwai. Sebaliknya, jika liriknya kurang tepat, publik berhak mengkritisinya bahkan menegur penciptanya jika perlu. Memang sudah adabnya, karya seni yang baik itu mendidik pendengar ke hal yang baik untuk melakukan yang baik pula.

Masalahnya, lirik “Mardua Holong” ini melulu ungkapan emosional seorang lelaki galau. Tidak ada lirik remedi (mengobati) atau rehabilitatif (memulihkan) di dalamnya sebagai pengobat rasa sakit terhadap moralitas yang tercabik-cabik. Murni mau menegaskan kejamnya hukum Hammurabi “mata ganti mata”. Atau supaya tidak kedengaran terlalu kejam, “jika ditampar pipimu, tabok lagi pipinya”. Itu pun masih kejam juga. Intinya, insan manusia yang menyenandungkan lagu ini mempertontonkan keegoisannya – yang walaupun mungkin jujur begitu adanya –  terhadap manusia lain, mantan kekasihnya. Seolah tak cukup di antara mereka berdua, dia juga mau berteriak ke seluruh dunia: “Ingat, karma itu berjalan”.

Iya. Kami tahu. Sebagai pendengar kami sangat terpapar dengan kepercayaan bahwa karma itu ada (atau setidaknya dipercaya ada). Sama seperti kanker, perbudakan, perang, pemerkosaan dan kata-kata negatif lainnya.

Karena kami sudah tau, biarkanlah realitas pahit itu terjadi – sekali lagi, jika benar ada – pada kehidupan nyata. Kita semua memiliki beban dan keluhan masing-masing. Juga sudah tak bisa dihitung sudah berapa sering kita merasa di ambang batas kesabaran bahkan garis nadir hidup (grenzsituation), mengutip sang fisuf Karl Jaspers. Kita butuh sesuatu yang indah dan menghibur. Bukankah seni itu hakikatnya adalah indah dan menghibur? Karena itu kami ingin mendengar lagumu. Tetapi, mengapa kau memperdengarkan kenyataan pahit itu lagi? Seolah kau lebih tahu dari kami.

Okelah. Ini soal perasaaan, kau bilang. Tapi, asal kau tau saja ya. Soal rasa kesal bahkan mungkin dendam beberapa saat setelah putus dengan mantan kekasih, kami juga mengalaminya. Kami pernah berada pada posisi itu. Seakan langit runtuh karena orang yang selama ini kami yakini sudah benar-benar melabuhkan hatinya pada kami, toh bisa berbalik arah juga, memilih tempat berlabuh yang lain. Oke. Itu manusiawi. Sebagai manusia, kau dan kami, masih manusiawi, dan bisa juga jujur jika diminta. Perbedaannya: kami menyimpannya sendiri. Kami mencari masa untuk tenang terlebih dahulu. Mungkin benar bahwa jika terjadi perpisahan, mantan melakukan banyak kesalahan atau situasi yang tidak mendukung (entah itu status sosial, ekonomi, cinta beda agama, fisik dan lainnya) tapi lalu kami sadar: besar atau kecil, kami juga menyumbang kesalahan yang sama, atau jangan-jangan malah lebih parah.  Tanya saja hati kecilmu: jika dia memang nyaman denganmu, dia tidak akan memilih yang lain. 

Maka, ketika perpisahan terjadi, tidak selalu jelas siapa yang meninggalkan dan siapa yang ditinggalkan. Tidak ada penjahat dan yang dijahati. Jangan-jangan malah kamu yang jahat karena sudah merasa melakukan segalanya, tapi lalu mengutuk mantanmu karena tidak membalas sesuai pengharapanmu. Idealnya, kamu dan aku bisa belajar dari “Cinta Tak Harus Memiliki”-nya Charly ST12 atau “Cinta Beda Agama”-nya Vicky Salamor. Alih-alih menyalahkan pasangan, mereka melihat bahwa ada hal lain yang menyebabkan perpisahan itu. Tak melulu karena si mantan itu benar penjahat.

Karena itu, saranku:

MESKI BERAT, DOAKAN YANG BAIK UNTUK MANTANMU.

Kembali ke analisis lirik ya. Berbeda dengan lirik “Dos do Nakkokna” yang pada akhirnya mengajak orang untuk berbuat baik: “Jala angkup ni i, unang ma ginjang roham. Unang ma leas roham mangida jolma na mauas na male. Asa denggan sude. Asa retta sude. Ai ido nihalomohon ni Tuhan i” (Jangan tinggi hati. Jangan memandang rendah orang yang miskin. Supaya semua akhirnya menjadi baik. Sebab itulah yang dikehendaki Tuhan). Jadi jelas ya, meski sebelumnya juga berbicara tentang tabur-tuai atau tumimbal lahir atau karma alias sapata, akhirnya mengarahkan pada yang baik juga. Maka pantas lirik dan lagunya didengarkan, dinyanyikan ulang dan dijiwai. Sebab mengandung nilai moral yang baik.

Bahkan lagu Iwan Fals yang berbunyi “Lonteku … terimalah kasihku atas pertolonganmu di malam itu” tetap mengakomodasi fungsi pendidikan moral dan karakter ini. Ia mengobati hati pendengar setelah melukainya dengan kata “lonte” alih-alih “perempuan”.

Satu hal lagi tentang kata “sapata”. Bagi orang Batak, segmen terbesar pendengar lagu “Mardua Holong” ini, mereka memahami betul arti dari frasa “hata do pardebataon“. Kata-kata yang keluar itu adalah doa. Kata-kata yang diucapkan dengan sungguh-sungguh itu efficax alias manjur. Ia bisa mendatangkan berkat sekaligus kutuk. Itu sebabnya, orang Batak tidak terlalu suka lagi “marpate-patean”


Catatan kritis yang sedikit ini hanya untuk tujuan pendidikan moral dan karakter semata. Jika memang lagu “Mardua Holong” dicipta tanpa memikirkan aspek moral ini, berarti catatan ini tidak relevan. Anggap saja sebagai salah satu komentar di konten Youtube-mu yang sudah ditonton  jutaan kali itu.

Apapun itu, wahai seniman, teruslah berkarya! Itu saja catatan kritisnya. Di luar itu, lagu “Mardua Holong” ini bagus. Enak. Renyah di telinga.