Meski Berat, Doakan yang Baik untuk Mantanmu

Manganju nimmu nunga hubahen
Mangelek nimmu nga hu ulahon
Pangidoanmu sitauhulehon do
Asalma boi sonang rohami
Saleleng dohot au

Setia nimmu nunga hubahen
Unang mardua nga hu ulahon
Sudenai ito gabe balik do
Laos gabe ho do na lao mardua dalan
Dohot sidoli i

Reff:
Saonarion ito tuntunma lomom
Dang sipangorai au manang sipanjujui
Nunga tung haccit hu hilala hasian manghaholongi ho

Alai ingotma ito mardalan do sapata
Molo na denggan doi denggan do jaloonmu
Molo na haccit songon pambaenanmon tu au
Haccit do jaloonmu

Horas ma di ho ito
Dohot sidoli halletmi
Horasma di au ito
Na tininggalhonmon


Lagu ini enak. Renyah di telinga. Cuma, Saya punya ‘sedikit’ catatan kritis pada bagian liriknya.

Secara umum liriknya adalah ungkapan hati seorang lelaki – yang merasa sudah melakukan semampunya semua hal yang diminta kekasihnya – tetapi toh akhirnya ditinggalkan.  (Di video tersedia juga subtitel bahasa Indonesia bagi yang tidak memahami bahasa Batak).

Kritik yang kumaksud adalah terhadap penggalan lirik ini:

“Alai ingotma ito mardalan do sapata
Molo na denggan doi denggan do jaloonmu
Molo na haccit songon pambaenanmon tu au
Haccit do jaloonmu”

“Sapata” berarti “karma”.

Jadi, kalau diterjemahkan secara bebas kurang lebih si lelaki hendak melampiaskan kegeramannya sambil menyumpah mantan yang meninggalkannya. Begini:
(Mungkin sembari menangis sesenggukan ala cowok bucin metroseksual, dambaan ciwi-ciwi motor metic yang kalau mau belok kanan pasang lampu sein ke kiri)

Tapi, asal kamu tau ya.

Karma itu berjalan.

Kalau kamu menabur yang baik, kamu akan menuai yang baik.

Tapi kalau kamu membuat sakit hati, seperti yang kamu lakukan ke aku sekarang ini,

Ingat, kamu juga akan menerima yang sakit

 

Sepintas tak ada yang aneh. Toh benar kan? Berlaku hukum tabur-tuai (bagi yang mempercayainya). Jika kamu melakukan sesuatu yang baik, niscaya (dibantu oleh segenap alam semesta) kamu akan mendapatkan yang baik pula. Jika kamu melakukan yang buruk, niscaya (dibantu oleh segenap alam semesta) kamu akan mendapatkan yang buruk pula. Makna yang mirip juga sebetulnya bisa kita dengar pada lagu yang dinyanyikan Ambisi Trio “Dos do Nakkokna” ciptaan Iran Ambarita: Molo sinuan hassang, hassang do na tubu. Molo sinuan gadong, gadong do na tubu. Molo sinuan na denggan, sai na denggan do na ro. Molo sinuan na roa, sai naroa do na ro.

Terus, masalahnya dimana?

Pertama sekali penting diingat bahwa jika sebuah karya seni (termasuk lagu) dipublikasikan, maka karya itu menjadi bagian dari masyarakat. Hak cipta dan hak terkait lainnya memang adalah milik pencipta atau label rekaman yang memproduksinya, tetapi alamat dari pesan lagu tersebut adalah masyarakat. Karena itu, jika liriknya tepat, publik akan menjadikannya sebagai lagu yang pantas ditiru, dinyanyikan ulang, bahkan dijiwai. Sebaliknya, jika liriknya kurang tepat, publik berhak mengkritisinya bahkan menegur penciptanya jika perlu. Memang sudah adabnya, karya seni yang baik itu mendidik pendengar ke hal yang baik untuk melakukan yang baik pula.

Masalahnya, lirik “Mardua Holong” ini melulu ungkapan emosional seorang lelaki galau. Tidak ada lirik remedi (mengobati) atau rehabilitatif (memulihkan) di dalamnya sebagai pengobat rasa sakit terhadap moralitas yang tercabik-cabik. Murni mau menegaskan kejamnya hukum Hammurabi “mata ganti mata”. Atau supaya tidak kedengaran terlalu kejam, “jika ditampar pipimu, tabok lagi pipinya”. Itu pun masih kejam juga. Intinya, insan manusia yang menyenandungkan lagu ini mempertontonkan keegoisannya – yang walaupun mungkin jujur begitu adanya –  terhadap manusia lain, mantan kekasihnya. Seolah tak cukup di antara mereka berdua, dia juga mau berteriak ke seluruh dunia: “Ingat, karma itu berjalan”.

Iya. Kami tahu. Sebagai pendengar kami sangat terpapar dengan kepercayaan bahwa karma itu ada (atau setidaknya dipercaya ada). Sama seperti kanker, perbudakan, perang, pemerkosaan dan kata-kata negatif lainnya.

Karena kami sudah tau, biarkanlah realitas pahit itu terjadi – sekali lagi, jika benar ada – pada kehidupan nyata. Kita semua memiliki beban dan keluhan masing-masing. Juga sudah tak bisa dihitung sudah berapa sering kita merasa di ambang batas kesabaran bahkan garis nadir hidup (grenzsituation), mengutip sang fisuf Karl Jaspers. Kita butuh sesuatu yang indah dan menghibur. Bukankah seni itu hakikatnya adalah indah dan menghibur? Karena itu kami ingin mendengar lagumu. Tetapi, mengapa kau memperdengarkan kenyataan pahit itu lagi? Seolah kau lebih tahu dari kami.

Okelah. Ini soal perasaaan, kau bilang. Tapi, asal kau tau saja ya. Soal rasa kesal bahkan mungkin dendam beberapa saat setelah putus dengan mantan kekasih, kami juga mengalaminya. Kami pernah berada pada posisi itu. Seakan langit runtuh karena orang yang selama ini kami yakini sudah benar-benar melabuhkan hatinya pada kami, toh bisa berbalik arah juga, memilih tempat berlabuh yang lain. Oke. Itu manusiawi. Sebagai manusia, kau dan kami, masih manusiawi, dan bisa juga jujur jika diminta. Perbedaannya: kami menyimpannya sendiri. Kami mencari masa untuk tenang terlebih dahulu. Mungkin benar bahwa jika terjadi perpisahan, mantan melakukan banyak kesalahan atau situasi yang tidak mendukung (entah itu status sosial, ekonomi, cinta beda agama, fisik dan lainnya) tapi lalu kami sadar: besar atau kecil, kami juga menyumbang kesalahan yang sama, atau jangan-jangan malah lebih parah.  Tanya saja hati kecilmu: jika dia memang nyaman denganmu, dia tidak akan memilih yang lain. 

Maka, ketika perpisahan terjadi, tidak selalu jelas siapa yang meninggalkan dan siapa yang ditinggalkan. Tidak ada penjahat dan yang dijahati. Jangan-jangan malah kamu yang jahat karena sudah merasa melakukan segalanya, tapi lalu mengutuk mantanmu karena tidak membalas sesuai pengharapanmu. Idealnya, kamu dan aku bisa belajar dari “Cinta Tak Harus Memiliki”-nya Charly ST12 atau “Cinta Beda Agama”-nya Vicky Salamor. Alih-alih menyalahkan pasangan, mereka melihat bahwa ada hal lain yang menyebabkan perpisahan itu. Tak melulu karena si mantan itu benar penjahat.

Karena itu, saranku:

MESKI BERAT, DOAKAN YANG BAIK UNTUK MANTANMU.

Kembali ke analisis lirik ya. Berbeda dengan lirik “Dos do Nakkokna” yang pada akhirnya mengajak orang untuk berbuat baik: “Jala angkup ni i, unang ma ginjang roham. Unang ma leas roham mangida jolma na mauas na male. Asa denggan sude. Asa retta sude. Ai ido nihalomohon ni Tuhan i” (Jangan tinggi hati. Jangan memandang rendah orang yang miskin. Supaya semua akhirnya menjadi baik. Sebab itulah yang dikehendaki Tuhan). Jadi jelas ya, meski sebelumnya juga berbicara tentang tabur-tuai atau tumimbal lahir atau karma alias sapata, akhirnya mengarahkan pada yang baik juga. Maka pantas lirik dan lagunya didengarkan, dinyanyikan ulang dan dijiwai. Sebab mengandung nilai moral yang baik.

Bahkan lagu Iwan Fals yang berbunyi “Lonteku … terimalah kasihku atas pertolonganmu di malam itu” tetap mengakomodasi fungsi pendidikan moral dan karakter ini. Ia mengobati hati pendengar setelah melukainya dengan kata “lonte” alih-alih “perempuan”.

Satu hal lagi tentang kata “sapata”. Bagi orang Batak, segmen terbesar pendengar lagu “Mardua Holong” ini, mereka memahami betul arti dari frasa “hata do pardebataon“. Kata-kata yang keluar itu adalah doa. Kata-kata yang diucapkan dengan sungguh-sungguh itu efficax alias manjur. Ia bisa mendatangkan berkat sekaligus kutuk. Itu sebabnya, orang Batak tidak terlalu suka lagi “marpate-patean”


Catatan kritis yang sedikit ini hanya untuk tujuan pendidikan moral dan karakter semata. Jika memang lagu “Mardua Holong” dicipta tanpa memikirkan aspek moral ini, berarti catatan ini tidak relevan. Anggap saja sebagai salah satu komentar di konten Youtube-mu yang sudah ditonton  jutaan kali itu.

Apapun itu, wahai seniman, teruslah berkarya! Itu saja catatan kritisnya. Di luar itu, lagu “Mardua Holong” ini bagus. Enak. Renyah di telinga.

 

 

Hidup Miskin Jangan Salahin Tuhan

Jika kamu adalah orang Hokkian, mestinya kamu tau lagu Ai Piah Cia Eh Yia, lagu Hokkian yang cukup populer di dunia. Karena sudah populer, maka meski kamu bukan seorang Hokkian, bagus juga kalau kamu tau lagunya.

Selain memiliki irama yang bagus, lagu ini juga memiliki arti yang luar biasa. Konon ini salah satu kunci keberhasilan para kaum Cina Hokkian perantau dimanapun berada. Di Pematangsiantar, di Medan, Pekanbaru, Jambi, Palembang, Bengkulu, Medan, Surabaya, Bali, Banjarmasin, Kutai, Makassar, Kendari, Manado, dan Ambon. Kalau di Jakarta sendiri biasa banyak ditemui di daerah Muara Karang, Pantai Indah Kapuk, Kelapa Gading dan sekitarnya. Singkatnya, di banyak tempat di Indonesia.

Eh, bentarbentar. Kok bisa lagu bikin sukses?

Kayaknya sih nggak sesederhana itu maksudnya ya. Maksudnya tuh, pesan dalam lagunya membangkitkan semangat orang untuk bekerja tanpa lelah untuk memperbaiki keadaan. Silahkan kamu terjemahkan sendiri “bekerja tanpa lelah” itu maksudnya bagaimana.

Kamu bisa pakai filosofi “Kerja, kerja, kerja” ala Pak Jokowi.

Atau “Work Smarter, Play Harder” ala generasi buruh korporat digital yang  bersemangat entrepreurial.

Atau “Work Hard, Invest Harder” ala yelyel penanam saham pemula.

Atau nggak perlu pakai filosofi-filofian segala.

Pokoknya kerja saja. Udah.

Jadi, kalaupun kamu bukan seorang Chinese Hokkien, jika kamu mau sukses juga seperti mereka, kamu juga boleh mempelajari dan menyanyikan lagu ini. (Memangnya selama ini lagu ini dilarang ya? Ya nggak juga sih.)

Xixixixixi …

(Gitu katanya kalau ketawa orang kaya).

Intinya, lagu ini menjadi alarm untuk terus memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu jika ingin meningkatkan taraf penghidupan dan kesejahteraan. Tidak melulu menyalahkan orang lain, entah itu Jokowi, pemerintah, bos atau Omnibus Law yang baru disahkan pada 5 Oktober yang lalu.

Miliki Budaya Kerja terlebih dahulu. Jika sudah bisa terpenuhi sandang, pangan, papan dan pulsa seluler, lalu mau coba buka usaha ya silahkan. Jika usahamu berhasil, pahalamu bertambah, pundi-pundi rezekimu berlipat. Nanti kalau kamu sudah jadi bos, senyum karyawanmu setiap kali gajian adalah kebahagiaan tersendiri buatmu sebagai pengusaha (itu kata teman Saya sih)

Ya sudah. Supaya tidak semakin melantur kemana-mana, inilah dia lirik lagu pembawa kesuksesan itu.

Haaiyaa


爱拼才会赢
Ai pia cia e ya
Bekerja keras baru dapat berhasil

一时失志 不免怨叹
Chi shisi ci e mian huan dan
Sekali gagal jangan mengeluh, dan menyalahkan hal-hal di sekitar kita

一时落 魄不免胆寒
Chi si lo bie e mian dan han
Sekali terpuruk jangan bersedih dan cemas

那通失去希望 每日醉茫茫
Na tang sit gi hii bang, mui lit zui bang bang
Mana boleh kehilangan semangat, Tiap hari mabuk-mabukan

无魂有体亲像稻草人
Mbo hun wu dei qing qiu tiu jao lang
Seperti orang-orangan pohon padi di sawah, punya badan tak punya nyawa,

人生可比是海上的波浪
Yin shing ko pi si hai siong e po long
Kehidupan manusia ibarat ombak di lautan,

有时起有时落
Wu si gii wu si luo
Kadang naik, kadang turun,

好运歹命
Ho un pai un
(Tak perduli) Nasib baik, (ataupun) nasib buruk,

总吗要照起工来行
Cong ma ciao gi kang lai kia
(pekerjaan) selalu harus dilaksanakan dengan teratur.

三分天注定 七分靠打拼
Sa hun ti cut tia, Thjit hun ko ba pia
Tiga puluh persen adalah nasib, tujuh puluh persen adalah hasil bekerja keras (juga sebaiknya bekerja cerdas)

爱拼才会赢
Ai pia cia e ya
Bekerja keras (dan bekerja cerdas) baru dapat berhasil.


Oh iya. Ini ada video versi kontemporer dengan tambahan lirik dan motif lagu. Saya lebih suka versi yang ini.

Pertama, musikalitasnya lebih modern, lebih cocok dengan kaum muda seperti Saya.

Kedua, penyanyinya cantik. Jadi ya juga cocok dengan kaum muda seperti Saya. Hahaha …

Pilihlah Hidup

Aaa … aaa …. aaa …

Should’ve stayed were the signs I ignored?

Can I help you not to hurt anymore?

We saw brilliance, when the world, was asleep.

There are things that we can have but can’t keep

 

If they say

Who cares if one more light goes out

In a sky of a million stars?

It flickers, flickers

Who cares when someone’s time runs out

If a moment is all we are

We’re quicker, quicker

Who cares if one more light goes out?

Well I do.

 

The reminders pull the floor from your feet

In the kitchen, one more chair than you need oh

And you’re angry, and you should be, it’s not fair

Just ’cause you can’t see it, doesn’t mean it isn’t there

 

If they say,

Who cares if one more light goes out

In a sky of a million stars?

It flickers, flickers

Who cares when someone’s time runs out

If a moment is all we are

We’re quicker, quicker

Who cares if one more light goes out?

Well I do.

 

If they say,

Who cares if one more light goes out

In a sky of a million stars?

It flickers, flickers

Who cares when someone’s time runs out

If a moment is all we are

We’re quicker, quicker

Who cares if one more light goes out?

Well I do.


Lagu ini cukup legendaris bagi banyak orang, termasuk Saya.

Pertama, karena Chester Bennington, si vokalis Linkin Park yang menyanyikan lagu ini, kita ketahui meninggal bunuh diri. Ini sudah lebih dari cukup menjelaskan mengapa lagu ini kemudian menjadi sangat sarat makna dan pesan untuk direnungkan.

Kedua, setelah melihat versi cover dari One Voice Children’s Choir, ada perasaan merinding meski sudah mendengarkannya untuk kesekian kalinya. Versi yang dibuat dalam rangka bulan Suicide Prevention and Awareness (Sikap Mawas dan Pencegahan terhadap Bunuh Diri) ini membuat “One More Light” semakin istimewa. Selain karena ketertarikan dengan melodi lagu yang dengan menakjubkan dinyanyikan oleh paduan suara, anggotanya anak-anak pula, dengan indah duka dan harapan tergambar disini.

Belum lama ini, kita mendengar banyak kejadian artis bahkan orang biasa yang melakukan tindakan bunuh diri. Saya tidak ingin memulai perdebatan tentang asal-muasal, sebab atau situasi yang menyebabkan fenomena suram generasi kita ini. Sebab sangat kompleks dan rentan subjektif jika mencoba menggunakan sudut pandang tunggal.

Saya hanya mau menawarkan supaya kita sesekali memperkaya nalar kita yang sangat rasional-positivistik dengan kandungan cipta yang penuh dengan rasa dan empati. Melalui seni terutama lagu, hal ini lebih tepat dan akurat tersampaikan. Sebagai anasir tertinggi dari peradaban yang tinggi (terlebih bagi warga Nusantara yang kerap menyebut dirinya berbudaya adiluhung), lagu (sebagai bagian dari seni dan budaya) sekali lagi menegaskan dirinya sebagai sarana komunikasi yang paling tepat. Di dalamnya, misteri hidup dan mati – yang tak hentinya membuat kita bingung – disampaikan dengan indah.

Kembali ke cover One Voice Children’s Choir. Seperti ditulis di deskripsi videonya, ternyata lagu ini juga mereka dedikasikan untuk salah satu anggota paduan suara mereka, Megan. Sang konduktor, Masa merasakan kepedihan yang cukup mendalam atas kepergian gadis cilik Megan. Sedih-sesedihsedihnya, sama dengan orangtua, teman dan kerabat Megan.

Ketiga, sekali lagi, seni yang bagus, ialah seni yang menyatukan manusia. Seniman yang baik akan menciptakan karya yang menyatukan manusia. Jika setiap mendengar lagunya kita menjadi teringat akan sosok dan pesan kehidupan yang disampaikannya, itulah seniman yang sudah mencapai pencerahan tertinggi. Buat Saya, “One More Light” adalah salah satu contohnya.

Keempat, seperti pesan lagu ini: Pilihlah hidup.

Choose to live.

Choose to stay.

Lirik Unang Jaishon

Konon, bakti kepada orangtua dimulai dari mengelap kakinya. Tindakan kecil dan sederhana, tapi rasanya valid menjadi tolok ukur apakah seorang anak tetap menghargai orangtuanya. Baik sebagai orangtua maupun sebagai manusia yang membutuhkan pertolongan ketika mereka tak mampu lagi bahkan sekedar membersihkan diri sendiri. Artinya, hal itu bahkan wajar dilakukan seorang anak sekalipun yang mau dibasuh adalah orang lain, artinya bukan orangtuanya sendiri. Nah, apalagi kalau orangtua sendiri bukan?

Dalam konteks lain, membasuh kaki menjadi bukti konkret bagi pengikut Yeshua, mereka yang menyebut diri sebagai orang Kristen, bahwa melebihi standar ritual kaum sebangsanya pada zamannya, “Si Pembaharu” itu konsisten berbuat sesuai perkataannya, yakni melayani. Ketika seorang melayani, kerendahan hati itu diletakkan pada level yang paling bawah sekali. Begitu seharusnya.

Ribuan tahun sesudahnya, di wilayah yang berjarak ribuan kilometer dari peristiwa pembasuhan kaki si Guru atas kaki murid-muridnya di Israel, Tigor Gypsy Marpaung menuangkan nilai falsafah yang kaya itu lewat lagu ciptaannya, “Unang Jaishon”.

Lepas dari segala pencapaian seorang anak yang tentu membanggakan orangtua, bukti konkret penghargaan anak tetap membutuhkan suatu event kontak fisik, demikian sehingga penghargaan dan bakti itu tidak cukup lewat sapa dan haha-hihi di layar perangkat. Tidak cukup sekedar mention nama orangtuanya pada foto wisuda atau ketika ia membuka kantor baru, lalu ambil foto selfie dengan caption, “All of this is possible just because of you, Mom and Dad”.

Bagus. Tapi tak cukup.

Kalau mau konkret, basuh kakinya.

Antar dia ke kamar mandi ketika untuk buang air sekalipun dia butuh dipapah supaya tidak jatuh dan terjerembab.

Entah Tigor menyadari ini ketika menulis lirik lagu ini, atau entah Willy Hutasoit dan kawan-kawan Style Voice menyadari kedalaman pesan lagu ini ketika mereka menyanyikannya, beberapa orang sungguh tersentuh. Saat ini, termasuk Saya.

Seperti apa lirik dan musiknya?

Ini.


Sabar maho da amang
na lao pature-turehon au
nungga turpuk sijaloon i
taononku na hassit

unang mandele amang
sai unang jaishon amangmon
da naung bukkuk matuaon
na diparsahiton i

nungga sisulangan mangan
anggo amangmon hasian
sipainum-inumon au
siparidi-ridion i
uju ngolukkon ma nian
tupa ma baen na denggan

marisuang do i
molo dung mate au
marembas-embas ho
mambaen boan horbo ho
hape jais dingolukon

pajong-jong tambak pe
lao pasangappon au
lao patimbohon au
marisuang doi
molo jais dingolukkon

Album Pop Batak: Sagak Gabe Boni

Artist: Style Voice

Title: Unang Jaishon

Songwriter: Tigor Gipsy Marpaung

Cigarette of Ours

Cigarettes Of Ours

-Ardhito Pramono-

I’m sitting by the door and ready to explore
The feelings I have when you passed that store
Watch you look older
Sitting down with cigarettes of ours
Why’d you given all your money?
For such a precious story
My life is treated usual good then goodbye
To our memories
Sitting down with cigarettes of ours
Take it easy for a little while
You know he did everything good so far
Our fragmented love and cry
We suddenly turn into dust and die
I said it oooh
If you’re my only friend
Can you stay up on my pain?
The memories and the smell of she remains in my memories
Sitting down with cigarettes of ours
Take it easy for a little while
You know he did everything good so far
Our fragmented love and cry
We suddenly turn into dust and die
I said it oooooh
Don’t make it rains it’s might for a little while
I said it oooooh
Take it easy for a little while
You know he did everything good so far
Our fragmented love and cry
We suddenly turn into dust and die
I said it oooooh
Don’t make it rains it’s might for a little while
I said it oooooh

Siapa Ardhito?

Cigarettes Of Ours diciptakan dan dipopulerkan oleh Ardhito Pramono, seorang seniman muda dengan aliran musik jazz dan pop yang sangat memikat hati pendengarnya. Lagu pop ini dirilis pada 2019 dengan album A Letter to My 17 Year Old.

Pernah suatu kali, lagu ini dibawakan Ardhito Pramono secara live di Raka Fair 2019, UNILA. Saat itu, 8 Oktober 2019, sebelum Ardhito bernyanyi dia memperkenalkan bahwa ini salah satu lagu baru dan mengajak seluruh mahasiswa yang ada disana untuk nyanyi bersama-sama terlebih dahulu. Ardhito tampak sangat enjoy membawakan lagu barunya. Sembari tetap menghayati lagu dari suaranya sendiri, ia menyapa para mahasiswa yang menontonnya antusias. Tak lama mereka pun ikut menyanyi bersama Ardhito. Ia memetik gitar, diiringi pemusik lain pada trumpet, saxophone, bass dan keyboard. Penampilannya semakin apik saat ia bersiul, menambah unsur manis pada lagunya. Selain suara khas yang dimilikinya, Ardhito memang terampil memainkan gitar, keyboard dan drum sehingga memudahkannya dalam bernyanyi.

Ardhito memulai dengan intro memakai petikan gitar menyanyikan bait pertama, kedua, reff diikuti dengan suara penonton. Selesai menyanyikan Cigarettes of Ours, ia mengucapkan “Thank You” kepada para penonton lalu setelahnya diikuti petikan gitar.

Lagunya apik, penampilannya manis. Pelan-pelan Ardhito merebut hati para penggemarnya.


Dikutip seperlunya dari tulisan Yocelyn Samosir, siswi XII IPS 1 SMA Budi Mulia Pematangsiantar, T.A. 2019-2020

Notasi Angka “Andung-andung ni Anak Siampudan” Eddy Silitonga


(Intro)

(MOTIF A)

Dang begeon ku be inong, Soara mi da inong
Turiturian na ma di au dainong, Di paninggalhon mi di au
Pussu ni siubeon mi dainong, Au inong simagoi

(MOTIF A)

Dung hubege baritami dainong, Naung jumolo ho inong
Mangangguk bobar ma au inong, Lungun nai di au on
Di au siampudan mi dainong, Da siampudan lapung i

(MOTIF A)

Marsali ma au dainong, Da tu hombar ni jabui
Asa adong da ongkos hi dainong, Mangeahi udeanmi
Inganan na saoboi be haulahani dainong, Tois nai ho inonghu

(MOTIF A)

Dung sahat au dainong, Diharbaganni huta i
Hubereng ma da ruma mi dainong, Nungnga balik balatukmi
Marduhut ma alaman mi dainong, Nungnga tudos tu natarulang i

MOTIF B:

Hei….. hei…. hei…., Hei… hei …. hei…,

Inong…. Inong…. Inong…., Inong… Inong

MOTIF A:
Husukkun ma dongan sahuta dainong, Didia do hudean mi
Dipatuduhon ma tu au dainong, Da dipudini jabui
Dihambirang ni damang i dainong, Ditoruni harambir mi

MOTIF A:
Hu ukkap potimi dainong, Inganan ni salendang mi
Hape ditongos do tu au dainong, Gabe tinggal ma orbuki
Sian rapu rapu turere dainong, Ias ias ni jabumi

MOTIF B:

Hei….. hei…. hei…., Hei… hei …. hei…,

Inong…. Inong…. Inong…., Inong… Inong


Andung adalah salah satu seni musik vokal (Ende) dari etnis Batak Toba. Jenis Ende yang lain yakni Ende Mandideng, Ende Marmeam, Ende Sibaran, Ende Pargaulan, Ende Poda/Sipasingot dan Ende HataAndung menceritakan riwayat hidup seseorang yang telah meninggal, baik pada waktu di depan jenazah ataupun setelah dikubur. Karena itu, sudut pandang yang digunakan, yang menjadi isi dari andung, adalah ingatan si penembang/penyanyi dan ungkapan afeksi kepada mendiang.

Dalam lagu “Andung-andung ni Anak Siampudan” (ratapan anak bungsu) ciptaan Jonggi Simanullang ini, si penembang seperti ingin meneriakkan betapa dia kehilangan sosok ibunya, merenungkan kebaikannya semasa hidup dan dengan nada melankolis hendak mengungkapkan betapa dia agak menyesal mengapa nasib belum berpihak kepadanya sebagai anak bungsu yang belum bisa memberikan sesuatu yang berarti untuk membahagiakan ibunya.

Dokumentasi video yang dekat dengan deskripsi di atas dapat kita temukan, misalnya, pada konten YouTube “Andung-andung ni Anak Siampudan” yang dinyanyikan Simatupang Sister berikut ini.

 

Notasi Angka “YUE LIANG DAI BIAO WO DE XIN”

Notasi Angka Yue Liang Dai Biao Wo De Xin oleh Donald Haromunthe menurut lagu yang dinyanyikan Teresa Teng. 

Dengan apik, Teresa Teng menyanyikan lagu klasik Mandarin ini. Saya pilihkan video yang disertai lirik untuk memudahkan pembaca mempelajarinya.

Lagu: Yue Liang Daibiao Wo De Xin
Artis: Teresa Teng
Album: Mandarin Classic Hits, Vol. 6
Dilisensikan ke YouTube oleh [Merlin] MusicYes (atas nama Ey Chun); LatinAutor - SonyATV, UNIAO BRASILEIRA DE EDITORAS DE MUSICA - UBEM, LatinAutor, dan 4 Komunitas Hak Musik

Saya tidak memahami penggunaan aksara Pinyin. Oleh karena itu, irik lengkap dan terjemahan dalam bahasa Inggris dan Indonesia akan dituliskan dalam aksara Latin sebagai berikut.

Yue Liang Dai Biao Wo De Xin 

ni wen wo ai ni you duo shen

wo ai ni you ji fen

wo de qing ye zhen

wo de ai ye zhen

yue liang dai biao wo de xin

 

ni wen wo ai ni you duo shen

wo ai ni you ji fen

wo de qing bu yi

wo de ai bu bian

yue liang dai biao wo de xin

 

* qing qing de yi ge wen

yi jin da dong wo de xin

shen shen de yi duan qing

jiao wo si nian dao ru jin

 

* ni wen wo ai ni you duo shen

wo ai ni you ji fen


(Dalam bahasa Indonesia): (Biarlah) Bulan Mewakili Hatiku

Kau bertanya padaku seberapa dalam aku mencintaimu

Seberapa besar aku mencintaimu

Perasaan ku ini sungguh-sungguh

Begitu juga dengan cintaku

Bulan mewakili hatiku

Kau bertanya padaku seberapa dalam aku mencintaimu

Seberapa besar aku mencintaimu

Perasaanku tak akan berpindah

Cintaku tak kan berubah

Bulan mewakili hatiku

Sebuah kecupan lembut

Sudah menyentuh hatiku

Sebuah perasaan yang mendalam

Membuatku memikirkanmu hingga sekarang

Kau bertanya padaku seberapa dalam aku mencintaimu

Seberapa besar aku mencintaimu

Kau memikirkannya

Kau memperhatikannya

Bulan mewakili hatiku


(Dalam bahasa Inggris): The Moon Represents My Heart

You ask me how deep my love for you is,
How much I really love you…
My affection does not waver,
My love will not change. The moon represents my heart.

* Just one soft kiss is enough to move my heart.
A period of time when our affection was deep,
Has made me miss you until now.
* You ask me how deep my love for you is,

How much I really love you.

** Go think about it. Go and have a look [at the moon],

The moon represents my heart.


Oh iya. Lagu ini bahkan dengan apik dibawakan oleh sang maestro saxofon, Kenny G.

Notasi Angka Lagu Tradisional Angkola “KIJOM”

 

(Bagian A)

Kijom ale kijom, Kijom ale kijom

Kijom ale dongan ma dongan dongan

Kijom ale kijom, Kijom ale kijom

Kijom ale dongan ma dongan dongan

(Bagian B)

(da) Losung ni pid0li, O dongan dongan, 

Tumbuk salapa indaluna, O dongan dongan

Janjitta nasa doli, O dongan dongan

Tumbuk tu halak do jadina, O dongan dongan

 

Bagian C

Endeng ni endeng situkkol ni dong dong

Ise na di ke nang si -boru na lom lom

(Bagian A)

Siabu ma si galangan
Siambirang laos pahulo
Siamun marsijalangan
Sihambirang mangapus i lu

(Bagian B)

Kijom ale kijom
Kijom ale kijom …
Kijom ale kijom ma dongan dongan

 


Konon, lagu ini adalah salah satu lagu yang digunakan nenek moyang dari daratan Tapanuli Selatan (masyarakat Angkola) pada saat peperangan dahulu untuk melawan musuh-musuh.

Notasi angka di atas sesuai dengan versi kontemporer “Kijom” yang di-cover oleh Sweet Silaen, Raja Syarif Siregar, Yogi Sipayung, Erik Simanjuntak. Lihat videonya disini.

Lirik “Marhasak Pe Galumbang I”

Marhasak pe galumbang i.
Gogo pe nang alogo i.
Tung so mabiar au disi
Sai hulugahon solukki

Manaripari au humaliang
Tu labuan na mansai dao

Sugari pe manongnong au
Diboan arus na doras
Hujou goar ni Tuhan i
Lao manggonggomi tondikki

Songon si Jonas au diramoti
Tu labuan na mansai dao

Dang marlapatan na sa ujungna di na manompa laut i

Sai hulugahon solukki sian galumbang i

Tuhan i do mandongani au di solukki

Arian borngin tongtong do mandongani au

dipatudu dalan na lao situjuanhi

Ai tung jonok do Tuhanku mangurupi au

Dukkon taripar solukki

Sonang ma au … Tuhan

Lirik “Tingak Akan Anak Sakula”

(Intro)

Tuh tingak akan anak sakula
mangat ketun tau barendeng
belum huang kota
ela dia mingat kasusah
ampin Indu Bapa
je asi-asi tulak mantat gita
malan-malanan

(Interlude)

Ewen sana andau balawa
tulak mimbit pisau pahera
Berusaha manggau ongkos balanja
hapa mangirim akan anak sakula

(Interlude)

Tapi buhen ikau huang kota
malah rami bapoya-poya
tege kiriman bara Indu Bapa
hapa manyewa motorsampeda

Kilen nampi tau harati
melai kota cara manyi-manyi
sakaliga takejet salinga buli
mambuka rapot dia mandai

(Interlude)

Ewen sana andau balawa
tulak mimbit pisau pahera
Berusaha manggau ongkos balanja
hapa mangirim akan anak sakula

Tapi buhen ikau huang kota
malah rami bapoya-poya
tege kiriman bara Indu Bapa
hapa manyewa motorsampeda

Kilen nampi tau harati
melai kota cara manyi-manyi
sakaliga takejet salinga buli
mambuka rapot dia mandai

Tamam gaya jadi huang kota
supa mina bapander habasa
Padahal amun bulik guang huma
kuma behas bolog dengan
luntuh potok nangka
Padahal amun bulik guang huma
kuma behas bolog dengan
luntuh potok nangka


Suatu ketika, di warung kopi, seorang bapak bercanda ke aku. Dia bilang begini.

“Tau nggak kamu? Disini orang suka makan pentol. Saking sukanya, orang sini jual tanah untuk beli pentol. Lalu pendatang jual pentol, lalu beli tanah”

Candaan itu, konon, benar adanya.

Karena benar, yang tadinya aku ketawa, tiba-tiba merasa getir.

Ngomong-ngomong, menurut Marion, selain pentol, kurangnya minat untuk melanjutkan pendidikan adalah penyebab mengapa warga Kalimantan, dengan tanah dan hutan yang luas bisa kekuragan kayu, kaya akan tanah tapi menjadi karyawan di kebun kelapa sawit, kaya akan batubara tetapi listrik PLN masih belum terjangkau ke banyak desa.

Ya udah. Kita simak dulu nasehat ini ya.

“Nih, mengingatkan untuk anak sekolah …