Menulis Fiksi – Premis

Saat kita menulis sebuah cerita fiksi, baik itu cerpen, novela, atau novel, kita memerlukan premis. Tujuannya agar cerita yang ditulis memiliki konflik yang kuat. Selain itu, memiliki premis yang jelas akan sangat membantu saat menuliskan kerangka karangan (outline).

Hanasuri Kenda, seorang web content writer yang menggawangi rumah produksi Elfa Mediatama, membagikan tips sederhana terkait premis ini pada sebuah kelas menulis.

Oh iya, kamu bisa langsung chat Whatsapp dengan Kenda juga jika ingin bertanya lebih lanjut.


Bagaimana premis yang baik?

Premis yang baik harus memuat tokoh utama, konflik, dan solusi/penyelesaian/ending.

Jadi, formula premis/gagasan pokok sebuah cerita adalah seperti ini:

TOKOH  +  KONFLIK  + ENDING

Contohnya:

  • Tokoh: Tommy
  • Konflik: Tommy ingin mendapatkan cinta Sara tapi terkendala status sosial.
  • Ending: 
    -happy: berhasil bersatu
    -sad: tidak bisa bersatu
    -open: dibuat menggantung

Nah, jika dibentuk dalam satu kalimat menjadi:

Tommy mencintai Sara, tetapi status sosialnya yang hanya anak dari pedagang kerupuk membuat cintanya harus berakhir saat Sara dibawa orang tuanya ke luar negeri.

Dari kalimat premis tersebut, calon pembaca/investor/produser novel yang kamu tawarkan novel atau cerita fiksimu akan tahu, “Oh, Oke. Sad ending“.

Wilayah penulisannya akan mengulas seputar perjuangan Tommy yang mengalami kegagalan.


Bisakah premis saya berubah?

Banyak penulis pemula yang  bertanya: “Bisakah premis berubah? Saat saya menulis kok malah berakhir menjadi B, padahal di awal Saya pengennya buat A”.

Jika kalian adalah penulis pemula yang bahkan membuat paragraf saja masih serabutan, fokuslah dulu pada premis. Mengapa? Karena premis memandu kalian untuk berpikir logis, membantu kalian membuat outline yang benar, dan melatih kalian disiplin dan fokus.

Saya banyak mendapati naskah yang tulisannya loncat. Sebentar ke A, sebentar lagi ke B. Buruk sekali. – (Hanasuri Kenda)

Cara menulis dan hasil tulisan seperti itu mencerminkan  keseharian penulis yang tidak bisa berpikir dengan runut.

Pengalaman membuktikan bahwa jika kamu displin berlatih dan konsisten pada premis awal (khusus untuk penulis pemula dan yang baru hendak belajar menulis), hal itu akan membantu kalian untuk bercerita dengan runut. Akan selalu ada kemungkinan bahwa pada bagian tertentu ceritamu  “miss”, tetapi premis membuatmu tetap ingat pada tujuan awal menulis cerita sehingga “miss-(es)” tadi bisa diminimalisir.

Tetapi akan berbeda jika yang menulis sudah profesional dan sudah ahli (ini akan terlihat dari opening atau cara dia mengawali tulisan). Mau diubah jadi bentuk apa pun premisnya, eksekusinya hasilnya akan selalu 100%. Beda level, beda treatment. Jadi, sebagai pemula kamu tidak bisa memaksakan diri untuk mengikuti pola yang dilakukan oleh para penulis pro tadi.

Maka, sebelum menulis, tanyakan pada diri kalian terlebih dahulu:

Saya ini penulis pemula atau pro?


Catatan:

Oh, iya.

Di artikel sebelumnya di situs blog ini Saya sudah menulis tentang bagaimana dasar menulis premis untuk sebuah skenario film?

Sama-sama premis , apa bedanya antara novel dengan adegan skenario?

Meskipun pada dasarnya formula premis tetap sama (yakni tokoh/perkenalan + konflik + ending), akan tetapi penulisan skenario film (screenplay) membutuhkan pengembangan yang lebih karena nantinya akan menjadi cetak biru penafsiran sinematik.

Penentuan premis dalam sebuah skenario mengandaikan penulis sudah memperhitungkan beats, layouts, dan terminologi tertentu untuk mengomunikasikan apa saja kebutuhan visual dan audio nanti pada saat produksi.

Uniknya, kalimat premis-nya tidak harus bahkan sering tidak memuat keterangan itu secara eksplisit (sehingga premis screenwriting dan premis novel sekilas bisa terlihat sama saja).

Facebook Comments

Published by

Donald

Penyanyi dan para pemusik itu tampil memukau di hadapan raja dan tamu undangan. Suguhan lagu mereka melengkapi jamuan makan dan minuman, omong kosong serta sopan santun sebagaimana layaknya perjamuan manusia. Raja puas. Ia tidak jadi memenggal kepala para seniman itu. Malah, ia menepati janjinya dan membayar mereka dengan upah yang lebih dari sekedar ongkos pulang dan dengan sumringah menemui istri dan anak yang menunggu di rumah. Demikianlah seniman melengkapi gizi rohani bagi para penguasa dan pekerja, yang seharian lelah dengan pekerjaan manusia. Kerap, seniman memang lain dari manusia biasa.

Komentar